www.fokustempo.id – Penggunaan warna merah jambon yang berlebihan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Salah satunya adalah Rizky Biebier, yang menyampaikan keluhannya di media sosial mengenai dominasi warna tersebut dalam berbagai aspek pemerintahan dan ruang publik.
Keluhan Rizky bukanlah satu-satunya, karena banyak warga Jember merasa saturasi warna merah jambon ini menciptakan polusi visual dalam kehidupan sehari-hari. Dalam video yang diunggahnya pada 31 Desember 2025, ia berhasil menarik perhatian lebih dari 38 ribu orang, yang menunjukkan bahwa keresahan ini bukan sekadar suara minoritas.
Nakhoda pemerintahan Jember, Bupati Muhammad Fawait, tampaknya tetap mengabaikan suara-suara kritis tersebut. Dalam setiap kesempatan, ia tak segan mengenakan pakaian merah muda, yang makin mempertegas identitas politiknya. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah nuansa tersebut akan terus mendominasi Kabupaten Jember ke depannya.
Polemik Warna Merah Jambon di Ruang Publik Jember
Tak hanya Rizky, anggota DPRD Jember, Nurhuda Candra Hidayat, juga mengungkapkan keberatannya. Ia meminta agar gerobak dan rombong untuk pedagang kecil tidak dicat dengan warna merah muda tersebut, yang ia anggap sebagai simbol kampanye terselubung. Keberatan ini menjadi tanda bahwa beberapa elemen masyarakat mulai merasakan dampak dari dominasi warna yang terlanjur menjadi identitas pemerintahan.
Namun, harapan Nurhuda agar gerobak tersebut tidak dicat berwarna merah muda nyatanya tak berpengaruh. Ribuan gerobak yang disiapkan untuk mendukung pedagang tetap memiliki nuansa yang sama dengan baliho kampanye dan elemen publik lainnya. Parahnya, warna ini seolah menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan dalam identitas politik Bupati.
Menyemarakkan perdebatan, dukungan terhadap Bupati Muhammad Fawait juga muncul dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah pernyataan dari Ikwan Setiawan, seorang dosen di Fakultas Ilmu Budaya. Ikwan menilai bahwa mempertahankan warna jambon setelah pilkada merupakan strategi politik yang cerdas untuk membangun identitas yang kuat.
Persepsi Masyarakat dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Sehari-hari
Meski demikian, ada kekhawatiran tentang dampak yang ditimbulkan. Ikwan mengisyaratkan bahwa dominasi warna merah jambon dapat menghasilkan polusi visual yang mengganggu kenyamanan masyarakat. Ini menjadi dilema bagi Bupati, di mana ia ingin membangun identitas, tapi juga harus peka terhadap kebutuhan estetika publik.
Masalah ini juga diperkuat dengan pernyataan Jumantoro, tokoh petani pendukung Fawait, yang mengkritik penggunaan gambar pemerintah yang berwarna merah muda. Ia menggarisbawahi bahwa keberadaan warna ini menciptakan kesan bahwa hubungan antara Bupati dan Wakil Bupati hanya sebatas politik, bukannya untuk menerapkan kebijakan yang menguntungkan masyarakat.
Rizky Biebier, dalam sorotannya, tidak hanya mengekspresikan ketidakpuasan, tetapi juga sebagai representasi suara rakyat yang mulai memiliki kesadaran politik. Ia menggambarkan posisi dirinya yang mendukung siapapun pemimpin yang terpilih, tetapi merasa perlu untuk berkomentar jika situasi sudah berlebihan.
Reaksi dan Strategi Komunikasi Pemerintahan
Dari reaksi-reaksi yang muncul, Bupati Fawait sendiri tampaknya menganggap masalah warna ini sebagai isu sepele. Ia melihatnya sebagai bagian dari kebebasan individu dan penggambaran subjektivitas. Namun, persepsi yang muncul di masyarakat menunjukkan bahwa hal ini lebih kompleks dan mengandung arti lebih dalam bagi mereka.
Fawait juga menekankan bahwa warna merah muda memiliki makna khusus, yakni cinta dan dedikasi terhadap masyarakat. Ia berargumen bahwa dengan cinta, pendapatan asli daerah bisa ditingkatkan dan secara keseluruhan memperbaiki kehidupan masyarakat. Namun, apakah argumen ini cukup untuk mensolidkan citra pemerintahan yang bersih dan responsif?
Dalam konteks ini, Ikwan mengingatkan bahwa pemimpin perlu lebih berhati-hati dalam merumuskan strategi warna identitas. Jika tidak, bisa timbul jenuh yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap citra publik Bupati dan kebijakan yang diambilnya.
Implikasi Kritis Terhadap Identitas Budaya dan Politik Jember
Ketika identitas politik menyatu terlalu dalam dengan simbolisme tertentu, ada risiko bahwa masyarakat akan merasakan kurangnya dinamika dan keberagaman. Dalam pandangan Ikwan, tidak bijak jika semua aspek diwarnai dengan satu warna. Akan lebih baik, Jember diperkaya dengan estetika visual yang beragam yang mencerminkan keberagaman masyarakatnya.
Rizky Biebier dalam media sosialnya mempertanyakan apakah Jember sedang menuju pola yang sama dengan Inter Miami, tim sepak bola yang dikenal dengan jersey merah mudanya. Analogi ini menciptakan gambaran bahwa penggunaan warna tersebut mungkin lebih kepada merchandising dibandingkan dengan makna yang lebih dalam dan substansial bagi masyarakat Jember.
Oleh karena itu, saran Ikwan untuk Fawait dan tim medianya menjadi penting. Mereka perlu memantau sentimen di masyarakat dan merespons dengan bijak agar tidak terjebak dalam kultur warna yang dapat mengisolasi mayoritas. Dengan cara ini, diharapkan Jember akan menunjukkan identitas yang lebih inklusif dan beragam.


