www.fokustempo.id – Rabu, 6 April 1977, menjadi momen bersejarah ketika Mochtar Lubis berdiri di depan publik di Taman Ismail Marzuki. Dalam pidatonya yang menggetarkan, ia mengangkat tema tentang karakter masyarakat Indonesia dan menantang kita untuk merenungkan keberanian jurnalisme dalam menghadapi korupsi dan ketidakadilan.
Pidato tersebut tidak hanya menyentuh hati banyak orang, tetapi juga memicu reaksi dari berbagai kalangan, termasuk Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto. Ia mendatangi Harian Kompas untuk menyampaikan protes atas kritik Mochtar yang dianggap menyentil feodalisme dalam jiwa manusia Indonesia.
Tulisan Jakob Oetama dalam pengantar buku ‘Manusia Indonesia’ memberikan gambaran tentang pandangan Margono bahwa aristokrasi tidak selalu dipandang buruk. Ia mengajak kita untuk melihat aspek positif aristokrasi sebagai sikap dan budi pekerti yang layak dijunjung tinggi dalam masyarakat.
Mochtar Lubis mengidentifikasi enam ciri khas manusia Indonesia yang menurutnya menghambat kemajuan, seperti hipokrisi dan kesulitan menerima tanggung jawab. Ciri-ciri tersebut sampai sekarang masih diingat, terutama ketika wajah buruk dari pejabat publik muncul ke permukaan.
Sikap tersebut seakan terpatri dalam takdir, menciptakan siklus perilaku yang tampaknya sulit untuk diputus. Namun, saat kita melihat kehadiran generasi baru, harapan untuk sebuah perubahan mulai terlihat.
Contoh nyata dari harapan tersebut datang dari Choirum Hening Dzikrillah, yang baru-baru ini meminta maaf di media sosial. Dengan penuh penyesalan, ia mengutarakan permohonan maaf kepada publik dan pihak-pihak yang merasa dirugikan akibat kesalahannya.
Hening, yang merupakan admin media sosial Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, berada di balik layar, bertugas menyebarluaskan aktivitas pemimpinnya. Dia hidup dalam keheningan, namun keheningan itu terguncang karena kesalahan kecil yang ia buat.
Dalam sebuah siaran langsung, percakapannya yang tidak disengaja mengenai konten video Eri menjadi viral dan menimbulkan spekulasi negatif. Sejak saat itu, publik mulai mempertanyakan kredibilitas Eri Cahyadi sebagai pemimpin kota.
Ketidakpahaman Hening tentang situasi di siaran langsung mengajarkan kita betapa pentingnya tanggung jawab di era digital. Dengan cepat, ia mengakui kesalahannya dan menyerahkan surat pengunduran diri sebagai bentuk pertanggungjawaban moral.
Pada pandangan pertama, tindakan Hening bisa dianggap biasa saja, mengingat praktik menyimpan video untuk konten media sosial adalah hal yang lumrah. Namun, konteks dan hasil dari langkah tersebut mengungkapkan kompleksitas persepsi publik.
Ketika Roland Barthes mengatakan “penulis sudah mati,” ia menyentil bahwa makna dari sebuah karya akan terus berkembang terlepas dari niat awal penciptanya. Publik bebas memberikan interpretasi, dan sering kali, pandangan yang luas bisa menciptakan stigma.
Walaupun Hening dianggap tidak profesional, keberaniannya untuk mengambil tanggung jawab menjadi lebih menonjol. Ini menunjukkan bahwa realitas tidak sepenuhnya selaras dengan gambaran klaim Mochtar Lubis tentang manusia Indonesia.
Mochtar Lubis menulis dengan merujuk pada karakter generasi ‘baby boomers’—yang lahir setelah Perang Dunia II. Sedangkan Hening dan banyak pemuda saat ini adalah bagian dari generasi Z dan milenial yang memahami pentingnya akuntabilitas.
Generasi muda kita, yang kini berjumlah sekitar 144 juta jiwa, memiliki karakteristik yang unik dan berbeda jauh dari generasi sebelumnya. Mereka lebih terbuka terhadap informasi baru serta cenderung berpikir kritis dan logis.
Riset terakhir dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa generasi milenial dan Z sangat peka terhadap fakta dan sering melakukan pengecekan informasi. Keterikatan mereka dengan teknologi informasi memberikan kesadaran akan konsekuensi dari setiap tindakan.
Sikap Hening di era digital membuktikan harapan bagi kemajuan karakter manusia Indonesia. Kritikan tajam Mochtar Lubis tidak seharusnya dianggap sebagai takdir yang tidak bisa diubah.
Generasi muda saat ini menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin dan perlu. Komitmen untuk bertanggung jawab dan beradaptasi dengan lingkungan sosial politik yang terus berkembang menjadi tanda positif bagi masa depan.
Seiring berjalannya waktu, kita melihat bahwa manusia dapat memperbaiki diri dan menumbuhkan karakter yang lebih baik, baik melalui refleksi pribadi maupun kesalahan publik yang dialami. Hening mungkin saja teladan masa kini yang mencerminkan harapan baru.


