www.fokustempo.id – Kabupaten Situbondo menyatakan kesiapan penuh jika ditunjuk sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Bupati Situbondo, Yusuf Rio Prayogo, memastikan hal ini saat mengikuti kegiatan Napak Tilas Sejarah NU yang diadakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, bersama KH Ahmad Azaim Ibrahimy.
Kesiapan tersebut tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga didasarkan pada ikatan sejarah yang kuat antara Situbondo dan berdirinya NU. Salah satu tokoh penting dalam sejarah NU, KH As’ad Syamsul Arifin, lahir di daerah ini dan telah diakui sebagai Pahlawan Nasional yang berperan besar.
“Napak tilas ini diinisiasi oleh KH Ahmad Azaim Ibrahimy, cucu dari Kiai As’ad Syamsul Arifin. Kegiatan ini bermanfaat untuk mengingat jati diri kita sebagai bagian dari sejarah NU,” ujar Bupati setelah berziarah ke Makam Sunan Ampel di Surabaya.
Pentingnya Sejarah dalam perkembangan NU di Situbondo
Sejarah panjang yang mengaitkan Situbondo dengan Nahdlatul Ulama memiliki banyak makna. KH As’ad Syamsul Arifin mendapat amanat dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, untuk meneruskan nilai-nilai penting kepada KH Hasyim Asy’ari, yang menjadi penanda berdirinya NU.
Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi menjadi pokok penting yang harus diingat dan dijaga oleh generasi penerus. Kegiatan napak tilas ini mencerminkan komitmen untuk terus mengenal dan memahami sejarah NU.
Menurut Bupati Rio, relevansi kegiatan ini sangat jelas, mengingat dinamika dalam organisasi yang selalu menghampiri. Kegiatan ini menjadi panduan untuk menghadapi tantangan dan menjaga kekompakan di dalam NU.
Tantangan dan Harapan Menjelang Muktamar ke-35 NU
Menjelang Muktamar ke-35 NU, tantangan yang dihadapi oleh pengurus sangat kompleks. Bupati Situbondo berharap segala dinamika internal dapat diselesaikan dengan baik agar muktamar berlangsung lancar dan memberikan manfaat bagi umat.
Menurutnya, pengalaman Situbondo sebagai tuan rumah pada tahun 1984 menjadi modal penting dalam menghadapi situasi serupa saat ini. Meskipun terdapat dinamika internal organisasi, Situbondo dianggap lebih mampu memberikan kenyamanan.
“Kami siap menjadi tuan rumah dengan segala persiapan yang matang,” tegas Bupati. Ia juga mengungkapkan harapan agar pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran untuk penyelenggaraan muktamar selanjutnya.
Persiapan Keamanan dan Kenyamanan untuk Peserta Muktamar
Keamanan dan kenyamanan peserta muktamar menjadi prioritas utama bagi pemerintah daerah. Bupati memastikan bahwa semua aspek sudah dipersiapkan dengan baik untuk menyambut peserta dari berbagai daerah.
Selain persiapan keamanan, terdapat inisiatif dari kalangan kiai dan pesantren untuk membantu mencukupi kebutuhan akomodasi peserta. Ini menunjukkan kolaborasi yang baik antara pemerintah, kiai, dan masyarakat dalam menyukseskan acara besar ini.
Bupati juga menjelaskan bahwa dia telah berkomunikasi dengan beberapa tokoh kiai terkait rencana penampungan peserta, yang diharapkan dapat ditanggung oleh pondok pesantren. Ini menunjukkan keseriusan Situbondo dalam melayani NU dan umat.
Navigasi Spiritual Menuju Muktamar yang Berkesan
Napak Tilas yang dilakukan bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga sebuah ikhtiar spiritual. Kegiatan ini dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Bangkalan dan diakhiri dengan ziarah ke makam Sunan Ampel.
Rangkaian kegiatan ini mendorong kesadaran akan perlunya menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Melalui napak tilas, para peserta diingatkan akan pentingnya sejarah NU sebagai fondasi bagi perkembangan organisasi ke depan.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan peserta muktamar dapat menghadapi agenda-agenda penting dengan penuh kesadaran dan semangat. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya hubungan antara sejarah, spiritualitas, dan misi NU ke depan.


