www.fokustempo.id – Tren belanja akhir tahun di kawasan Asia Tenggara menunjukkan pemulihan yang signifikan. Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa masyarakat di Indonesia menjadi salah satu yang paling aktif berbelanja saat periode liburan, mengindikasikan kebangkitan semangat konsumtif di tengah tantangan ekonomi.
Dalam survei tersebut, terlihat bahwa mayoritas konsumen Indonesia, sebanyak 84 persen, mengaku berencana untuk meningkatkan pengeluaran mereka menjelang tutup tahun. Angka ini memberi sinyal positif tentang pengaruh liburan terhadap perilaku belanja di Indonesia, meskipun masih di bawah Vietnam yang mencapai 88 persen.
Hal ini menciptakan harapan bahwa berbagai sektor akan mengalami pemulihan bahkan di tengah cuaca ekonomi yang menantang. Selain itu, tekanan pada pengeluaran ini juga tampak dari data yang menunjukkan bagaimana masyarakat memprioritaskan kebutuhan dan kegiatan tertentu selama akhir tahun.
Perjalanan Menjadi Kategori Belanja Terbesar di Indonesia
Di kawasan Asia Tenggara, sekitar 79 persen konsumen menyatakan bahwa mereka akan mengeluarkan lebih banyak uang di akhir tahun. Kategori belanja terbesar berasal dari kebutuhan perjalanan, di mana porsi pengeluaran mencapai 33 persen dari total belanja.
Di Indonesia, fokus pada perjalanan bahkan lebih mencolok. Data menunjukkan bahwa sekitar 50 persen masyarakat lebih suka menggunakan dana mereka untuk kebutuhan perjalanan, mencerminkan keinginan kuat untuk menjelajahi destinasi baru saat libur panjang.
Di sisi lain, kategori belanja lain yang juga mendapatkan perhatian adalah pakaian dan elektronik yang menyumbang 25 persen dari pengeluaran, diikuti oleh kebutuhan rumah tangga dan keluarga pada 20 persen. Ada juga kontribusi dari hadiah dan persiapan perayaan yang mencapai 19 persen.
Peningkatan Ketertarikan Terhadap Pinjaman Digital
Seiring dengan meningkatnya pengeluaran, kebutuhan akan pendanaan juga mengalami lonjakan. Menurut survei, 35 persen masyarakat di Asia Tenggara merasa lebih sering berutang menjelang akhir tahun ini.
Hal ini semakin jelas terlihat di Indonesia, di mana banyak konsumen mengakui bahwa utang mereka meningkat pada periode ini. Data menyebutkan bahwa 46 persen konsumen Indonesia pernah menggunakan pinjaman digital non-bank untuk memenuhi kebutuhan liburan mereka.
Minat terhadap pinjaman digital terus meningkat, dan tahun ini sebanyak 51 persen konsumen Indonesia berencana menggunakan layanan pinjaman non-bank berbasis digital. Hal ini khususnya ditujukan untuk pengeluaran pada perjalanan, dekorasi, hadiah, dan hiburan.
Analisis Perubahan Pola Belanja dan Utang di Asia Tenggara
Analis dari perusahaan riset mengamati bahwa pola belanja dan peminjaman di akhir tahun berbeda-beda di setiap negara di Asia Tenggara. Temuan ini memberikan perspektif yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi.
Salah satu pernyataan mereka menunjukkan bahwa, “Travel menjadi faktor pendorong utama belanja, terutama bagi masyarakat Indonesia. Dengan mobilitas yang tinggi dan adopsi digital yang semakin meningkat, masyarakat lebih nyaman menggunakan teknologi finansial untuk memenuhi kebutuhan mereka.”
Hasil riset ini juga memberikan gambaran bahwa pandemi yang mempengaruhi kebiasaan belanja mulai terpatahkan, dan masyarakat kini ingin kembali menikmati berbagai pengalaman yang sebelumnya terhalang.
Sekaligus, kesimpulan dari survei ini memberikan gambaran optimis bahwa dalam menghadapi tantangan yang ada, masyarakat Indonesia tidak hanya tetap berbelanja, tetapi juga memanfaatkan teknologi untuk mendukung pola belanja mereka. Momen liburan kali ini menjadi harapan bagi banyak orang untuk meraih kembali semangat berkumpul dan berbagi, walaupun dengan perencanaan finansial yang lebih bijaksana.
Perubahan pola ini juga berpotensi mendorong pertumbuhan sektor-sektor yang berkaitan dengan pariwisata dan perbelanjaan, menciptakan dampak positif bagi ekonomi lokal. Dapat diharapkan bahwa dalam beberapa tahun mendatang, akan ada pertumbuhan yang lebih signifikan di sektor ini seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pengelolaan keuangan dan pinjaman digital.


