www.fokustempo.id – Dalam sebuah kuliah umum di Surabaya, pengamat politik Rocky Gerung menyampaikan pandangannya tentang pertemuan Presiden Prabowo Subianto yang melibatkan 1.200 guru besar dari berbagai universitas. Dia menganggap pertemuan tersebut sebagai sebuah topik yang menarik untuk dibahas, namun sekaligus mengandung banyak tanda tanya.
Rocky menyampaikan pandangannya di acara Pandu Negeri Public Lecture pada Sabtu sore, 17 Januari 2026. Ia menunjukkan bahwa meski pertemuan ini melibatkan tokoh-tokoh akademis, substansi diskusi yang terjadi masih sangat dipertanyakan.
Rocky Gerung mengangkat kritik tajam terhadap pertemuan itu, mempertanyakan apa yang sebenarnya dibahas oleh para guru besar dengan Presiden Prabowo. Menurutnya, suasana di Istana Negara saat itu tidak mencerminkan interaksi yang produktif.
Kritikan Terhadap Substansi Diskusi di Pertemuan
Dalam ulasannya, Rocky menekankan betapa pentingnya masalah pendidikan dalam konteks pertemuan tersebut. Ia merasa heran karena tidak ada satu pun guru besar yang tampak berani mengajukan pertanyaan kepada Presiden Prabowo.
“Melihat situasi saat itu, saya ingin tahu isi dari pertemuan ini,” ungkap Rocky, menunjukkan kegelisahannya terhadap hasil dari acara tersebut. Dia menambahkan bahwa sikap pasif para akademisi menimbulkan kesan yang kurang baik.
Pengamat politik ini juga mempertanyakan ketidakhadiran pertanyaan kritis yang seharusnya diajukan oleh para guru besar. Dia kuasa mempersoalkan, mengapa tidak ada yang mempertanyakan kebijakan alokasi dana pendidikan yang dialihkan ke program Makan Bergizi Gratis.
Pertanyaan Kritis tentang Kebijakan Pendidikan
Rocky menjelaskan, “Bagaimana nasib riset ketika dana pendidikan dialihkan untuk urusan makanan siang bergizi gratis?” Pernyataan ini menegaskan betapa mendesaknya untuk membahas isu-isu yang sangat relevan.
Ia menyoroti bahwa seharusnya para guru besar dapat mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap kebijakan tersebut. Hal ini menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap isu-isu yang berkaitan langsung dengan pendidikan dan penelitian di negara ini.
Lebih jauh, Rocky menyuarakan bahwa jika tidak ada pertanyaan kritis yang muncul, maka kehadiran 1.200 guru besar tersebut akan terasa sia-sia. Dengan begitu, ia menegaskan pentingnya peran akademisi dalam mendorong diskusi yang produktif.
Implikasi dari Ketidakaktifan Akademisi dalam Diskusi
Rocky Gerung tidak segan-segan menyindir kehadiran 1.200 guru besar dengan pernyataan bahwa mereka tidak menghasilkan kontribusi berarti dalam diskusi tersebut. “Jadi, apakah kehadiran mereka hanya seperti formalitas belaka?” tanyanya retoris.
Ia menambahkan bahwa ketidakaktifan ini menandakan kurangnya rasa tanggung jawab sosial dari akademisi terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, dia berharap akan ada perubahan dalam cara berpikir dan bertindak di kalangan para peneliti dan pengajar.
Menghadiri pertemuan seperti itu seharusnya menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk menyuarakan aspirasi dan kritik. Rocky menantang para akademisi untuk lebih berani dalam menyampaikan pendapat mereka di forum-forum publik.


