www.fokustempo.id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tengah berupaya mendorong program peremajaan serta perluasan lahan tebu untuk mencapai target swasembada gula nasional. Langkah ini tidak hanya bersifat strategis, namun juga krusial dalam mengurangi ketergantungan pada impor gula yang selama ini menjadi masalah serius dalam ketahanan pangan nasional.
Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, mengungkapkan komitmen daerah yang mendalam terhadap peningkatan produksi gula. Program ini merupakan bagian dari berbagai inisiatif lainnya, seperti Makan Bergizi Gratis dan Sekolah Rakyat, yang memperlihatkan fokus daerah terhadap ketahanan pangan.
Program bongkar ratoon menjadi elemen kunci dalam upaya tersebut. Melalui penggantian tanaman tebu lama yang produktivitasnya menurun dengan bibit baru yang berkualitas, diharapkan hasilnya dapat dioptimalkan dan ketergantungan terhadap impor dapat berkurang secara signifikan.
Upaya Perluasan Lahan untuk Meningkatkan Produksi Gula
Usulan indikatif lahan yang diajukan untuk program peremajaan tebu di Bojonegoro mencapai 1.248 hektar. Meskipun jumlah ini bersifat dinamis, percepatan tersebut merupakan bagian dari target nasional di Jawa Timur yang seluas 70.000 hektar, dan memerlukan kolaborasi lintas sektor dan pemerintah.
Dalam mendukung pendataan, pihak pemerintah telah menerjunkan 150 tenaga tambahan untuk menginput informasi mengenai Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL). Penanaman sendiri diwajibkan dilakukan di lahan yang telah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS), melibatkan sekitar 1.600 penggarap di daerah tersebut.
Pemantauan terkini menunjukkan bahwa Bojonegoro memiliki sekitar 278 hektar lahan tebu aktif di kawasan hutan, dengan produksi yang mencapi 18.000 ton. Potensi perluasan jangka pendek telah teridentifikasi seluas 239 hektar, dan realisasi yang siap mencapai hingga 500 hektar.
Sentra Penanaman dan Kolaborasi untuk Pengelolaan yang Efisien
Sentra penanaman tebu terletak di beberapa kecamatan, antara lain Kecamatan Padangan, Tambakrejo, serta wilayah pengelolaan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro. Salah satu skema kolaborasi yang diusung adalah Agroforestry Tebu Mandiri (ATM), yang melibatkan Perum Perhutani dan PTPN X.
Kolaborasi ini menjadi tulang punggung dalam pengelolaan lahan tebu sehingga hasilnya diharapkan dapat memenuhi deman gula baik lokal maupun nasional. Upaya ini tak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan sumber daya yang ada.
Langkah-langkah sistematis ini menunjukkan tekad Bojonegoro menjadi salah satu pilar penting dalam peta ketahanan pangan dan swasembada gula Indonesia. Dengan kolaborasi yang solid, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani serta menciptakan lapangan kerja baru.
Pentingnya Menjaga Kualitas Produksi dan Kelestarian Lingkungan
Produktivitas lahan tebu di Bojonegoro tergolong tinggi, apalagi dengan penggunaan varietas unggul yang dapat menghasilkan 80-100 ton per hektar. Hasil panen ini umumnya disuplai ke pabrik gula yang berada di wilayah Madiun, menunjukkan adanya jaringan distribusi yang baik.
Di tengah upaya untuk meningkatkan produktivitas, pemerintah daerah juga sangat memperhatikan keseimbangan ekosistem. Program ini dirancang agar tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungan, termasuk pemeliharaan kawasan hutan serta penanaman pohon sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Dengan komitmen untuk menjaga lingkungan, Bojonegoro berupaya menjalankan program-program yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Keberhasilan ini tidak hanya akan berdampak positif bagi pertanian, tetapi juga bagi ekosistem dan masyarakat secara keseluruhan.


