www.fokustempo.id – Tim nasional Indonesia untuk kesekian kalinya harus mengubur impian lolos ke Piala Dunia. Kekalahan 2-3 dari Arab Saudi dan 0-1 dari Irak dalam babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia menjadi titik hitam dalam perjalanan sepak bola tanah air.
Dalam dua tahun, Indonesia mengarungi 20 laga kualifikasi melawan sembilan negara berbeda. Keberhasilan awal dengan dua kemenangan melawan Brunei Darussalam memicu harapan yang menyala di hati para pendukung fanatik.
Setelah melampaui putaran pertama dengan baik, Indonesia terjun ke putaran kedua dalam Grup F, bersaing melawan tim-tim kuat seperti Irak, Vietnam, dan Filipina. Meskipun menghadapi tantangan berat, penampilan tim Garuda memancarkan optimisme.
Pada awal putaran kedua, Indonesia menghadapi Irak yang tangguh. Meskipun mencetak gol dari Shayne Pattinama, hasil akhir 1-5 membuat banyak orang meragukan masa depan tim. Dalam laga melawan Filipina, hasil imbang 1-1 justru menambah kesedihan publik.
Semangat tim kembali membara ketika Indonesia mengalahkan Vietnam 1-0 di kandang sendiri dan 3-0 saat tandang. Namun, kekalahan 0-2 dari Irak di Jakarta kembali membuat harapan suram, sebelum akhirnya meraih kemenangan krusial 2-0 atas Filipina untuk melaju ke putaran ketiga.
Di Grup C, Indonesia berhadapan dengan tim-tim kuat seperti Arab Saudi, Australia, China, Jepang, dan Bahrain. Kebangkitan tim dalam menahan imbang Arab Saudi dan Australia mengundang harapan dari publik. Hasil imbang yang dihasilkan membuat masyarakat kembali berpikir, mungkin kali ini adalah waktu yang tepat.
Kekalahan 1-2 dari China, meski mengecewakan, tak menghentikan optimism masyarakat. Kemenangan melawan Arab Saudi 2-0 di Jakarta tercatat sebagai momen yang tak akan terlupakan, menyamai kejayaan tim pada era lampau saat menahan Uni Soviet pada Olimpiade 1956.
Namun, perjalanan Indonesia tak lepas dari masalah. Banyak yang mempertanyakan keputusan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang mengganti pelatih Shin Tae-Yong dengan Patrick Kluivert di tengah kompetisi. Langkah ini dianggap merugikan, mengingat performa tim saat itu masih cukup memuaskan.
Pergantian pelatih di tengah jalan seharusnya dilakukan dengan alasan yang kokoh, biasanya berdasarkan hasil pertandingan. Saat itu, tim masih berpeluang untuk bersaing di posisi runner-up grup. Dengan tiga pertandingan tersisa, harapan masih ada.
Namun, kedatangan Kluivert justru menambah kerumitan, dan kalah telak 1-5 dari Australia menghancurkan ekspektasi yang telah dibangun. Kemenangan tipis 1-0 atas Bahrain dan China hanya cukup untuk membawa tim ke putaran berikutnya, namun hasil akhirnya tetap mengecewakan.
Berdasarkan capaian yang ada, hasil kerja keras pelatih sebelumnya tetap layak diapresiasi. Namun, dengan segala usaha untuk menaturalisasi pemain, kegagalan ini menuntut tanggung jawab yang menjadi sorotan publik.
Harapan Erick Thohir untuk membangun proyek jangka panjang dengan Kluivert dipandang skeptis. Naturaliasi pemain yang mayoritas datang dari Eropa memang dimaksudkan untuk mempercepat proses menuju Piala Dunia. Namun harapan tersebut kembali bertabrakan dengan kenyataan.
Stephen Constantine, pelatih asal Inggris, pernah mengatakan bahwa dengan pemain profesional, pelatih hanya perlu fokus pada aspek taktis. Hal ini seakan memberikan harapan bahwa pemain yang sudah berpengalaman bisa memanfaatkan potensi mereka.
Strategi ini mirip dengan pendekatan yang diambil pelatih tim nasional Montserrat, yang berjuang mengembangkan pemain di negaranya yang minim. Keduanya, meskipun dalam kondisi berbeda, memiliki tantangan yang sama dalam dunia sepak bola.
Walaupun Indonesia memiliki lebih banyak pemain, tetap saja perjalanan mereka dalam kualifikasi Piala Dunia tetap dirasa sulit. Indonesia belum pernah lolos ke Piala Dunia sejak mengikuti kualifikasi pertama pada 1958. Harapan tim untuk meningkatkan performa terus tumbuh, terutama dengan tambahan slot Piala Dunia yang kini berjumlah 48 tim.
Tanpa keraguan, harapan untuk meloloskan diri ke Piala Dunia adalah titik awal kebangkitan sepak bola nasional. Namun, kualitas liga domestik yang masih memerlukan perbaikan membuat tujuan ini terasa sulit dicapai dalam waktu dekat.
Kegagalan Indonesia untuk lolos kali ini bukan hanya sebuah pelajaran. Kata hikmah menjadi tidak cukup untuk menggambarkan kenyataan pahit ini. Kegagalan ini menunjukkan bahwa tim tidak belajar dari kesalahan yang terjadi di masa lalu.
Masalah mendasar yang dihadapi adalah kurangnya sistem yang kuat untuk mendorong kemajuan tim. Sudah saatnya PSSI untuk mencari alternatif yang lebih baik, seperti mengikuti Piala Dunia CONIFA, di mana Indonesia bisa berkompetisi melawan negara-negara yang kurang dikenal.
Tim nasional Indonesia bisa jadi memiliki peluang lebih besar untuk bersaing dan meraih kemenangan melawan tim-tim tersebut. Pengalaman ini mungkin akan menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat juang yang diperlukan untuk mencapai prestasi lebih tinggi di masa depan.
Mengalahkan tim-tim yang selama ini dianggap remeh bisa jadi kunci untuk memulihkan semangat sepak bola nasional. Rasa percaya diri dapat diperoleh kembali jika tim mampu mengatasi tantangan yang ada, membuka jalan menuju era baru sepak bola Indonesia. [wir]


