www.fokustempo.id – Masalah di jalur penyeberangan Merak-Bakauheni telah menjadi perbincangan hangat di kalangan pengusaha transportasi. Menurut pandangan dari Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan, tantangan utama bukan terletak pada jumlah kapal, tetapi pada ketersediaan dermaga yang terbatas.
Saat ini, jumlah kapal yang mengantongi izin operasi di lintas tersebut sudah lebih dari cukup. Namun, kenyataannya, keterbatasan dermaga mengakibatkan banyak kapal tidak dapat beroperasi secara efisien, sehingga pelayanan kepada masyarakat terhambat.
Ketua Bidang Usaha dan Pentarifan DPP Gapasdap menjelaskan bahwa realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak kapal harus menunggu lama untuk mendapatkan jadwal operasi. Dengan kata lain, meskipun ada banyak kapal yang siap berlayar, infrastruktur yang ada tidak mendukung operasional yang optimal.
Strategi untuk Meningkatkan Operasional Kapal di Merak-Bakauheni
Gapasdap menyarankan adanya evaluasi mendalam mengenai kebijakan penambahan izin kapal. Penambahan tersebut seharusnya tidak dilakukan tanpa mempertimbangkan jumlah dermaga yang ada, karena hal ini berpotensi mengganggu kualitas pelayanan dan keselamatan pelayaran.
Penambahan kapal baru dalam kondisi dermaga yang sudah penuh akan membuat waktu operasional terhadap kapal yang sudah ada semakin berkurang. Gapasdap memperingatkan bahwa ini bisa menurunkan tingkat keandalan layanan transportasi penyeberangan.
Seperti yang dijelaskan oleh Rakhmatika, setiap penambahan kapal baru seharusnya diimbangi dengan penambahan dermaga. Hal ini penting untuk memastikan bahwa semua kapal dapat beroperasi dalam waktu yang wajar, sehingga biaya operasional dapat ditekan dan pelayanan tetap optimal.
Ketersediaan Dermaga dan Dampaknya Terhadap Pelayanan
DPP Gapasdap mengusulkan penambahan beberapa dermaga di lintas strategis untuk meningkatkan kapasitas angkut. Di lintas Merak-Bakauheni, misalnya, mereka meminta penambahan tiga pasang dermaga tambahan untuk mengurangi waktu tunggu kapal.
Pemenuhan terhadap kapasitas dermaga ini diharapkan bisa menambah kapasitas angkut hingga 15 persen. Tentu saja, hal ini akan membantu operator kapal untuk lebih efisien dalam mengatur jadwal pelayaran mereka.
Selain itu, operator kapal juga harus mematuhi standar pelayanan minimum yang telah ditetapkan pemerintah. Ini berarti, mereka wajib menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang sembari tetap berupaya memenuhi kebutuhan biaya operasional yang krusial.
Pentingnya Penyesuaian Tarif Angkutan Penyeberangan
Gapasdap juga menyoroti perlunya penyesuaian tarif yang sesuai dengan biaya operasional agar para operator tidak terjebak dalam kerugian finansial. Saat ini, tarif angkutan penyeberangan yang berlaku masih tertinggal cukup jauh dari kebutuhan biaya operasional.
Kondisi ini membuat operator kapal berada dalam dilema. Mereka diharuskan memenuhi standar pelayanan yang ketat, tetapi pendapatan yang diterima tidak mencukupi untuk menutup biaya yang harus dikeluarkan. Ini berpotensi menyebabkan masalah yang lebih besar di masa depan.
Dalam situasi seperti ini, jika tarif tidak disesuaikan sesuai kebutuhan, banyak operator berisiko kolaps, yang pada akhirnya akan berdampak negatif pada masyarakat dan perekonomian yang bergantung pada layanan tersebut.


