• Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi
Newsletter
  • Login
Fokus Tempo
  • Home
  • Peristiwa
  • Politik Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Ekbis
  • Sorotan
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Politik Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Ekbis
  • Sorotan
No Result
View All Result
Fokus Tempo
No Result
View All Result

Mencegah Tindakan Perundungan pada Anak dan Remaja

Mencegah Tindakan Perundungan pada Anak dan Remaja

BacaJuga

Liga Super, Masih Dihadapkan pada Masalah Regulasi

Liga Super, Masih Dihadapkan pada Masalah Regulasi

Pertanyaan tentang Kuliner Jember Terjawab Setelah Satu Dasawarsa

Pertanyaan tentang Kuliner Jember Terjawab Setelah Satu Dasawarsa

www.fokustempo.id – Berita terbaru dari Korea Selatan menarik perhatian publik di Indonesia. Sejumlah universitas ternama di negara tersebut mulai menerapkan kebijakan baru yang menolak calon mahasiswa dengan riwayat perundungan atau bullying. Hal ini menciptakan gelombang diskusi tentang dampak perundungan di lingkungan pendidikan, baik di Korea Selatan maupun di Indonesia.

Kebijakan tersebut mencakup pengecualian bagi 45 calon mahasiswa dari enam kampus nasional, meski mereka memiliki nilai akademik yang sangat baik. Ini menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap karakter dan perilaku sosial calon mahasiswa daripada sekadar prestasi akademik semata.

Menanggapi kebijakan ini, Esti Wijayati, Wakil Ketua Komisi X DPR, menyatakan bahwa langkah Korea Selatan bisa menjadi contoh penting dalam penanganan masalah perundungan di Indonesia. Menurutnya, menilai calon siswa berdasarkan riwayat perilaku dapat memberi efek jera yang lebih tepat dan strategis dalam mengatasi perundungan.

Fakta menunjukkan bahwa kasus perundungan di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Pada tahun 2025, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan adanya setidaknya 25 kasus bunuh diri yang diduga terkait dengan tindakan bullying, menunjukkan betapa seriusnya dampak dari perundungan ini.

Pentingnya Penanganan Masalah Perundungan di Indonesia

Perundungan atau bullying sering kali dipandang sebagai tindakan anak nakal yang hanya menyakiti teman sebayanya. Akan tetapi, sebenarnya masalah ini jauh lebih kompleks dan berkaitan erat dengan pola asuh, budaya sekolah, serta hubungan antarkomunitas yang timpang di dalamnya.

Melihat perundungan sebagai sebuah isu struktural memungkinkan kita untuk tidak hanya menyalahkan individu pelaku. Ini menuntut kita untuk merenungkan ekosistem pendidikan yang ada dan bagaimana cara kita mendidik serta berinteraksi satu sama lain.

Di berbagai institusi pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga universitas, perundungan sering dianggap sebagai hal yang wajar. Pernyataan seperti “namanya juga anak-anak” atau “dulu saya juga begitu dan baik-baik saja” justru memperkuat normalisasi tindakan kekerasan tersebut.

Padahal, setiap tindakan kekerasan, sekecil apapun, tidak seharusnya dianggap sepele. Perundungan bukan hanya soal menyakiti, melainkan juga mencerminkan gagalnya sistem pendukung yang seharusnya melindungi siswa yang sedang proses tumbuh.

Desakan Publik untuk Mengatasi Kasus Bullying

Keputusan tegas dari universitas di Korea Selatan tidak muncul tanpa desakan besar dari masyarakat. Kasus yang melibatkan anak mantan jaksa yang tetap diterima meski memiliki riwayat bullying menjadi titik balik penting dalam kebijakan ini. Ini menunjukkan bahwa publik mulai mendesak agar tindakan mendidik dan disiplin diberlakukan lebih ketat.

Sementara di Indonesia, kesadaran akan bahaya bullying telah meningkat. Meskipun belum ada kebijakan resmi yang melarang akses universitas bagi pelaku perundungan, penting untuk memastikan bahwa lingkungan pendidikan harus aman dan nyaman bagi semua siswa.

Kebudayaan candaan yang hangat di kalangan masyarakat Indonesia bisa berubah menjadi alat untuk mendalami batas, dengan mengejek aspek-aspek fisik dan sosial seseorang. Masalah ini sering kali dihadapi sebagai “keakraban”, padahal sebaliknya, keakraban yang mengharuskan seseorang menahan rasa sakit bukanlah kedekatan melainkan dominasi.

Di lingkungan sekolah, eksistensi sistem senioritas yang berlebihan turut memperkuat siklus perundungan. Junior yang menolak diejek sering dianggap tidak sopan, menciptakan budaya di mana korban perundungan merasa tidak punya suara.

Paradoks Seputar Keamanan di Lingkungan Sekolah

Seharusnya, sekolah menjadi tempat paling aman bagi seorang anak. Namun, dalam banyak kasus, institusi pendidikan lebih mementingkan reputasi daripada melindungi murid-muridnya dari tindakan bullying. Tidak jarang ketika ada kasus bullying, respon yang muncul justru menekankan untuk tidak mengangkat isu tersebut ke publik.

Sikap defensif ini justru berkontribusi pada pelestarian perundungan. Korban kehilangan kesempatan untuk berbicara, guru bingung mencari jalan keluar, dan orang tua terjebak dalam dilema antara melapor atau disalahkan.

Akhirnya, tindakan bullying bukan hanya masalah kedisiplinan semata, namun juga menjadi isu mendasar mengenai masa depan generasi mendatang. Setiap anak yang kehilangan keberanian untuk bermimpi karena tindakan bullying, menandakan adanya kehilangan potensi yang nyata dari bangsa ini.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk berani mengatakan bahwa sudah cukup dengan bullying. Kita tidak boleh lagi berpura-pura dan melanjutkan siklus yang dapat menghancurkan masa depan anak-anak kita.

Previous Post

KPK Terima Keppres Rehabilitasi, Eks Dirut ASDP dan Rekan Akan Segera Dibebaskan

Next Post

Dorong Pertumbuhan Ekosistem Teknologi di Indonesia

Rekomendasi

No Content Available

Jaringan Media

  • lensautama.id
  • wartafakta.id
  • kabarsuara.id
  • beritacepat.id
  • posbenua.id
  • metrosuara.id
  • lineberita.id
  • radarharian.id
  • tempoaktual.id
  • fokusnasional.id
  • pantauindonesia.id
  • sekilasnews.id
  • mediapos.id
  • bangsanews.id
  • terasfakta.id
  • indofakta.id
  • indotempo.id
  • arahberita.id
  • rincilokal.id
  • lacakberita.id
  • cuplikdata.id
  • siarandaerah.id
  • nalarberita.id
  • narasiutama.id
  • pusatkabar.id
  • pantaupublik.id
  • teropongpublik.id
  • portalkabar.id
  • kilaswarta.id
  • cahayaberita.id
  • rekamfakta.id
  • pijarberita.id
  • detilberita.id
  • indokritis.id
  • citraberita.id
  • perskita.id
  • nusainfo.id
  • lintasbangsa.id
  • laporanmetro.id
  • lensapublik.id
  • citraharian.id
  • zonaliputan.id
  • liputanmetro.id
  • indoheadline.id
  • arahkabar.id
  • zonajurnalis.id
  • infobangsa.id
  • logikaberita.id
  • mediasiaran.id
  • rakyatupdate.id
  • infoheadline.id
  • beritakritis.id
  • suarawan.id
  • jurnalita.id
  • layardunia.id
  • fokuspagi.id
  • indonesiacek.id
  • saluranrakyat.id
  • livemetro.id
  • setarainfo.id
  • rakyatinfo.id
  • detaklokal.id
  • harianlokal.id
  • metromerdeka.id
  • opiniglobal.id
  • ulasutama.id
  • potretpublik.id
  • pantaukabar.id
  • infonyata.id
  • kupasin.id
  • lipututama.id
  • riliskini.id
  • layarkabar.id
  • rekamperistiwa.id
  • tapkabar.id
  • pintukabar.id
  • intipfakta.id
  • laporterbaru.id
  • serbuanews.id
  • detakmedia.id
  • realitaterkini.id
  • petaberita.id
  • intikabar.id
  • mediaagenda.id
  • sisiberita.id
  • jakartavnews.com
  • wartafokus.com
  • bicarapublik.com
  • pantaumedia.com
  • rilisutama.com
  • suaraperistiwa.com
  • stasiunfakta.com
  • kabartajam.com
  • wawasanberita.com
  • sinyalberita.com
  • penanasional.com
  • medianalar.com
  • metronarasi.com
  • publikraya.com

Kategori

  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Politik Pemerintahan
  • Sorotan
Fokus Tempo

© 2025 Fokustempo. All rights reserved.

Informasi Kami

  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi

Social Media

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Politik Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Ekbis
  • Sorotan

© 2025 Fokustempo. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?