www.fokustempo.id – Peternak kambing di Kabupaten Pacitan kini menghadapi tantangan yang cukup mengguncang. Harga kambing di tingkat peternak mengalami penurunan drastis, mencapai 40 hingga 50 persen dalam beberapa bulan terakhir, yang membuat situasi semakin sulit untuk bertahan.
Jatuhnya harga kambing ini menjadi beban tambahan, terutama karena harga pakan terus meroket. Seorang peternak, Dodik Prahcoyo, mengungkapkan kerugian besar yang dialaminya terkait hal ini, yang bersumber dari penurunan harga jual dan kenaikan harga pakan secara signifikan.
Dia menyatakan bahwa harga daging kambing lokal yang dulunya mencapai Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram kini hanya berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp45 ribu. Dalam situasi ini, pakan yang tadinya dibeli dengan harga Rp160 ribu per sak, kini melonjak menjadi Rp240 ribu.
Permasalahan Harga Kambing yang Tidak Stabil di Pasaran
Salah satu faktor utama penurunan harga kambing adalah melemahnya daya beli masyarakat yang diakibatkan oleh kebijakan efisiensi anggaran. Kelemahan ini membuat banyak calon pembeli enggan untuk membeli daging kambing seperti sebelumnya.
Di samping itu, hadirnya daging impor turut memperburuk situasi. Daging dari negara lain yang masuk dengan mudah ke pasar lokal membuat harga daging lokal semakin tertekan, sehingga mempengaruhi pendapatan para peternak kambing di tingkat kecil.
Dodik menjelaskan, dampak dari keran impor daging yang dibuka telah terasa hingga ke lapisan peternak kecil seperti dirinya. Selain menghadapi tantangan finansial, ada juga tantangan dalam hal pemasaran produk.
Usulan untuk Memperbaiki Kondisi Peternakan Kambing
Walaupun situasi saat ini tampak suram, Dodik tetap berpikiran positif dan mendorong peternak lain untuk mencari solusi. Salah satu gagasannya adalah menciptakan pakan alternatif yang lebih terjangkau namun tetap memenuhi kebutuhan gizi kambing.
“Kita perlu berani menciptakan pakan murah agar bisa bertahan,” ujar Dodik. Ia menyadari pentingnya kolaborasi bagi peternak untuk menemukan pakan alternatif yang tidak hanya murah, tetapi juga efektif dalam mendukung pertumbuhan kambing.
Ia juga mengusulkan agar pemerintah daerah memberikan dukungan dalam membuka pasar baru bagi para peternak. Bazaar daging rutin, misalnya, bisa menjadi sarana bagi peternak untuk menjual langsung hasil ternak mereka kepada masyarakat tanpa perantara.
Pentingnya Inovasi dan Kerjasama antar Peternak dan Pemerintah
Dodik percaya bahwa ide-ide sederhana ini bisa membawa perubahan positif bagi peternak. Dengan menjual langsung kepada konsumen, mereka bisa mendapatkan harga yang lebih baik dan mengurangi ketergantungan pada pasar yang tidak stabil.
Harapan Dodik adalah agar semua pihak, mulai dari pemerintah, peternak, hingga pelaku usaha lainnya, berani berinovasi dan mencari jalan keluar dari krisis ini. Dengan langkah konkret, sektor peternakan kambing bisa bangkit dan tidak tertekan oleh meningkatnya biaya pakan dan serbuan daging impor.
Dengan dorongan inovasi dan kerjasama yang kuat, Dodik yakin masa depan peternakan kambing di Pacitan bisa menjadi lebih cerah. Langkah-langkah yang diambil untuk menciptakan pakan yang lebih terjangkau dan memperluas akses pasar akan membantu peternak untuk bertahan dan tumbuh di tengah tantangan ini.


