www.fokustempo.id – Aktivitas penanaman ribuan pohon alpukat di Kawah Wurung, Bondowoso, menarik perhatian khalayak dan memicu perdebatan. Dalam beberapa hari terakhir, isu ini menjadi viral di media sosial, menggugah berbagai reaksi dari masyarakat, pegiat lingkungan, serta pengelola pariwisata setempat.
Polemik ini berakar dari kekeliruan yang terjadi dalam penentuan lokasi penanaman. Kesalahan teknis dan miskomunikasi antara Perhutani dan pihak terkait turut memperburuk situasi yang telah ada. Situasi ini menjadi lebih kompleks ketika menyangkut kepentingan lingkungan dan pariwisata.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, mengungkapkan bahwa satu petak lahan di Kawah Wurung ternyata memiliki dua kerja sama aktif yang beririsan. Hal ini, menurutnya, merupakan sumber dari kebingungan yang terjadi saat perencanaan penanaman alpukat tersebut.
Polemik Penanaman Pohon Alpukat di Kawah Wurung
Misbakhul Munir menjelaskan bahwa penanaman pohon alpukat belum dilaksanakan. Saat ini, pihaknya baru melakukan persiapan dengan menggali lubang sebagai langkah awal. Target awal penanaman adalah sebanyak 3.000 pohon dengan luas area sekitar 30–40 hektare.
Namun, banyak pihak yang menolak rencana ini, menganggap bahwa kawasan savana adalah ikon pariwisata yang tidak seharusnya dirusak. Penolakan ini mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan serta pentingnya mempertahankan daya tarik wisata lokal.
Misbakhul juga menegaskan bahwa Perhutani berada dalam posisi yang sangat dilematis. Di satu sisi, mereka mendapat permintaan untuk menghijaukan kawasan, tetapi di sisi lain, pengelola pariwisata menginginkan agar keaslian kawasan tetap terjaga. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri bagi pengambilan keputusan.
Keterlibatan Pihak Terkait dalam Rencana Penghijauan
Dalam perkembangan terbaru, rencana lokasi penanaman dialihkan ke kawasan agroforestry yang lebih sesuai. Proses ini masih membutuhkan pengukuran dan diskusi lebih lanjut dengan masyarakat yang menggarap lahan. Hal ini penting dilakukan agar tidak menimbulkan gesekan di antara pihak-pihak yang berkepentingan.
Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad, menyatakan bahwa keputusan untuk membatalkan penanaman di Kawah Wurung adalah langkah yang tepat. Ia mengingatkan bahwa perencanaan apa pun harus didukung oleh kajian yang matang dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Fokus utama harus tetap pada keberlanjutan pariwisata.
Sinung mengakui bahwa ada beberapa pendapat yang mendukung penanaman alpukat untuk mengatasi masalah kendaraan yang merusak kawasan savana. Namun, ia berpendapat bahwa solusi yang lebih tepat adalah dengan memberikan larangan terhadap kendaraan roda empat atau menciptakan jalur khusus untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Masyarakat dan Pegiat Pariwisata Menyuarakan Dukungan
Plt Kepala Disparbudpora Bondowoso, Andrie Antio Zola, mengapresiasi masyarakat dan pegiat wisata yang mengawasi kelestarian Kawah Wurung. Dukungan opini publik melalui media sosial menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kepedulian yang tinggi terhadap keindahan dan keberlanjutan lingkungan sekitar.
Andrie menyatakan bahwa komunikasi terakhir dengan Perhutani mengindikasikan rencana reboisasi akan dilakukan di lokasi yang lebih sesuai. Ia menekankan bahwa Kawah Wurung sebagai ikon pariwisata tidak akan disentuh oleh pembangunan yang dapat merusaknya.
Polemik ini, menurut Andrie, muncul karena adanya kesalahpahaman di antara berbagai lembaga. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk melakukan kajian yang lebih mendalam dalam setiap rencana pengembangan di kawasan wisata yang sensitif ini.
Kedepan, Komunikasi dan Koordinasi Harus Ditingkatkan
Melihat situasi ini, penting bagi semua pihak untuk melakukan komunikasi yang lebih baik. Koordinasi antar lembaga yang lebih solid akan meminimalisir berbagai kesalahpahaman di masa mendatang. Keterlibatan masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk mendapatkan masukan yang konstruktif dalam setiap rencana yang ada.
Penting untuk diingat bahwa keberlanjutan lingkungan dan pariwisata tentu saling berhubungan. Menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan pelestarian lingkungan adalah tantangan yang harus diselesaikan bersama. Dalam hal ini, keterlibatan semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, akan sangat menentukan.
Dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada, solusi yang dipilih harus tetap memperhatikan aspek ekologis dan nilai sosial budaya. Kawah Wurung yang telah menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di Bondowoso tidak boleh diabaikan begitu saja. Melalui kerja sama yang baik, harapan untuk masa depan kawasan ini tetap terjaga.


