www.fokustempo.id – Al Jazeera baru-baru ini melaporkan dampak sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia, terutama bagi anak muda di generasi Z. Lulusan sarjana yang menganggur melimpah, ditambah kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas mereka. Sementara itu, Indonesia tercatat memiliki tingkat pengangguran di kalangan pemuda tertinggi di ASEAN, dengan 16 persen dari 44 juta penduduk Gen-Z tidak memiliki pekerjaan yang layak.
Angka tersebut menunjukkan situasi yang jauh lebih kelam dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Optimisme anak muda terhadap kondisi ekonomi juga mencerminkan keprihatinan yang serupa, dengan hanya 58 persen dari mereka yang merasa optimis terhadap rencana ekonomi pemerintah.
Berita ini menyoroti perhatian penting terkait kewirausahaan di ASEAN yang patut untuk dibahas lebih lanjut. Merujuk pada berbagai sumber, seperti ASEAN Report 2023 dan Global Entrepreneurship Index (GEI) 2024, kita bisa menggali lebih dalam mengenai keadaan kewirausahaan, tantangan yang dihadapi, serta potensi yang dimiliki pemuda di kawasan ini.
Keterbatasan lapangan kerja formal telah mendorong generasi muda untuk memikirkan alternatif, dan kewirausahaan menjadi jalan keluar yang semakin diminati. Dengan dukungan dari berbagai lembaga dan pertumbuhan startup, ada harapan untuk mengurangi angka pengangguran, khususnya di kalangan generasi Z.
Menggali Tingkat Kewirausahaan di ASEAN dengan Data Terkini
Berdasarkan data terkini Indeks Kewirausahaan Global (GEI 2024), Singapura menduduki peringkat 10 dunia dengan skor 72 persen berkat dukungan dari ekosistem yang matang dan akses pendanaan yang baik. Malaysia berada di peringkat 38 dunia dengan skor 52 persen, dilatarbelakangi oleh pertumbuhan pesat dalam sektor startup digital dan fintech.
Indonesia, meskipun berada di peringkat 53 dunia dengan skor 41 persen, memiliki jumlah wirausaha terbanyak di ASEAN, itu pun didominasi oleh usaha mikro kecil (UMKM). Sektor pariwisata, agritech, dan ekonomi kreatif yang ada di Thailand berada di peringkat 57 dunia dengan skor 38 persen.
Vietnam, yang menempati peringkat 65 dunia dengan skor 33 persen, menunjukkan perkembangan startup teknologi yang pesat, khususnya di bidang e-commerce dan Software as a Service (SaaS). Di balik angka-angka ini, Filipina menempati peringkat 70 dunia dengan 29 persen, dan sektor digitalnya belum sepenuhnya terkelola dengan optimal karena masalah infrastruktur yang ada.
Setiap negara di ASEAN mempunyai fokus kewirausahaan yang berbeda, yang diindikasikan oleh pertumbuhan sektor unggulan mereka. Di Indonesia dan Filipina, kami melihat fokus terhadap e-commerce, fintech, dan industri kreatif lainnya, sedangkan Singapura dan Malaysia lebih menitikberatkan kepada inovasi di bidang Deep Tech dan kesehatan.
Tahapan Kewirausahaan dan Peluang bagi Generasi Muda
Tahapan kewirausahaan awal atau Total Early-Stage Entrepreneurial Activity (TEA) menggambarkan seberapa banyak generasi muda terlibat dalam dunia usaha yang baru. Misalnya, di Indonesia, diperkirakan bahwa sekitar 21,6 persen dari penduduk dewasa memulai usaha baru dengan sektor industri kreatif mendominasi.
Yang menarik, di Vietnam terdapat TEA sebesar 15,3 persen, pendorong utamanya adalah munculnya peluang di pasar digital. Filipina mencatat TEA sebesar 14,2 persen, sementara Thailand dan Malaysia masing-masing tercatat 11,7 persen dan 9,8 persen, dengan Singapura berada di posisi terendah.
Sektor unggulan dalam kewirausahaan bervariasi. Misalnya, di Indonesia dan Filipina, sektor e-commerce dan fintech menunjukkan robust pertumbuhan. Di sisi lain, Singapura dan Malaysia terlihat mengejar inovasi dalam teknologi kesehatan dan kecerdasan buatan.
Dalam menjaga semangat kewirausahaan ini, dukungan dari pemerintah juga sangat penting. Banyak negara, termasuk Indonesia, memiliki program yang mendukung startup digital, yang bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Dampak Pengangguran terhadap Kewirausahaan di Kalangan Gen-Z
Tingkat pengangguran di kalangan pemuda, yang diambil dari sumber ILO 2023 dan GEM 2023, menunjukkan perbandingan antara pengangguran dan kegiatan kewirausahaan. Di Indonesia, dijumpai bahwa pengangguran mencapai 17,1 persen dengan TEA yang meningkat menjadi 24,3 persen, yang mencerminkan tingginya keinginan untuk berwirausaha di kalangan anak muda.
Di Filipina, meskipun tingkat pengangguran mencapai 12,8 persen, TEA masih di angka 19,7 persen. Kondisi ini menyebabkan generasi muda mencari alternatif dalam hal pekerjaan formal, mendorong pertumbuhan dalam bidang digital freelancing.
Sementara itu, Vietnam menunjukkan angkat pengangguran yang rendah, sekitar 7,9 persen, tetapi TEA-nya mencapai 18,1 persen. Ini menunjukkan bahwa anak muda lebih memilih untuk berwirausaha karena adanya peluang yang berkembang, bukan hanya sekedar kebutuhan mendesak.
Dalam konteks ini, Thailand dan Malaysia menunjukkan situasi yang kurang menguntungkan, dengan tingkat pengangguran dan TEA yang stagnan. Gen-Z di Thailand lebih cenderung memilih sektor pariwisata, tetapi terhambat oleh kompetisi yang ketat.


