www.fokustempo.id – Belakangan ini, masyarakat Indonesia menghadapi serangkaian keresahan dan kecemasan yang meningkat. Berbagai isu sosial dan ekonomi yang diangkat oleh sejumlah oknum di lingkungan pemerintahan, politisi, hingga masyarakat sipil menambah bobot ketakutan yang dialami oleh masyarakat.
Dengan kondisi perekonomian yang semakin sulit, masyarakat kelas menengah secara drastis kehilangan daya beli. Banyak usaha kecil yang merugi akibat penurunan omzet yang signifikan, sementara banyak pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), membuat mereka semakin rentan terhadap kemiskinan.
Anehnya, di tengah situasi sulit ini, berbagai pemerintah daerah secara bersamaan memutuskan untuk menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga seratus hingga seribu persen. Hal ini menimbulkan kemarahan di kalangan masyarakat, yang merasa bahwa pejabat tidak menunjukkan empati terhadap kesulitan yang mereka hadapi.
Di sisi lain, isu regulasi mengenai royalti bagi musisi juga memicu protes. Banyak musisi merasa tidak dilibatkan dalam pembuatan kebijakan ini dan mengkhawatirkan konsekuensi yang bisa merugikan usaha kecil dan komunitas kreatif. Situasi ini semakin rumit dengan pernyataan dari pejabat pemerintah mengenai pengawasan ketat dalam pengenaan pajak.
Akibat dari rentetan kebijakan yang meresahkan, protes di Kabupaten Pati meletus menjadi kerusuhan. Ketidakpuasan ini berpotensi menular ke daerah-daerah lain, menciptakan kekhawatiran akan gerakan sosial yang lebih luas. Hal ini tentunya menjadi perhatian serius bagi setiap pihak terlibat.
Saat melihat kondisi ini, banyak yang bertanya-tanya tentang siapa yang bertanggung jawab di balik aksi-aksi tersebut. Hal ini mengundang spekulasi tentang adanya kelompok yang berupaya menciptakan ketidakstabilan sosial demi kepentingan politik tertentu.
Kalimat-kalimat pertanyaan muncul di benak publik, apakah Presiden tidak menyadari potensi konflik yang dapat terjadi? Ini bukanlah pertanda baik bagi seorang pemimpin, terutama ketika mereka diharapkan untuk memulai masa kepemimpinannya tanpa menambah beban bagi rakyatnya.
Memahami Keresahan Masyarakat dalam Latar Belakang Sejarah
Mengingat kembali peristiwa sejarah di masa lalu, banyak isu menakutkan muncul menjelang G30S/PKI, seperti penculikan anak dan hantu-hantu dari cerita rakyat. Keadaan tersebut menciptakan suasana ketakutan yang digunakan oleh pihak tertentu untuk memposisikan kekuasaan.
Dalam konteks itu, penting bagi kita untuk merenungkan apakah keresahan yang disebarkan saat ini memiliki tujuan tertentu dalam permainan politik. Jangan sampai isu-isu tersebut menjadi alat untuk mengalihkan perhatian dari isu struktural yang lebih besar.
Berdasarkan teori Diversionary War, pemerintah terkadang menciptakan isu untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang lebih mendasar. Dalam hal ini, kebijakan-kebijakan kontroversial berpotensi menjadi alat pengalihan dari masalah korupsi yang mencolok.
Studi menunjukkan bahwa dampak inflasi global sangat dirasakan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, meningkatkan kerentanan mereka di tengah resesi ekonomi. Hal ini menunjukkan perlunya penanganan yang lebih hati-hati terhadap kebijakan yang diambil.
Dokumen yang diteliti oleh berbagai lembaga menunjukkan bahwa kebijakan kenaikan pajak yang agresif bisa melukai sektor usaha mikro dan kecil yang sudah berjuang untuk bertahan. Kenaikan pajak ini menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap prinsip kemampuan membayar warga.
Politik dalam Keresahan di Masyarakat
Melihat keresahan sebagai bagian dari dinamika kekuasaan di Indonesia sangatlah penting. Teori Elite Competition menunjukkan bahwa konflik internal elite dapat menghasilkan kebijakan yang kontradiktif, yang justru menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Isu-isu yang muncul bisa jadi merupakan hasil dari operasi intelijen tertentu yang berpihak pada kepentingan kelompok, sesuai dengan literatur yang ada tentang Deep State. Hal ini menunjukkan bagaimana birokrasi dapat memengaruhi kebijakan untuk mempertahankan kepentingan mereka sendiri.
Dari teori Contentious Politics, terlihat bahwa protes lokal dapat menyebar jika ada struktur peluang politik, jaringan organisasi nasional, dan framing isu yang efektif. Jika semua elemen ini bersatu, dampaknya bisa sangat besar.
Gerakan People Power, yang terbukti efektif jika melibatkan setidaknya 3,5 persen populasi, menunjukkan bahwa di Indonesia, diperlukan koordinasi lintas kelas dan etnis untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini tidaklah mudah, tetapi bukan tidak mungkin.
Dengan demikian, situasi politik yang terjadi saat ini dapat menjadi cermin bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Peran Presiden dalam Menghadapi Krisis Sosial
Secara teoritis, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, Presiden seharusnya dapat mengontrol semua kebijakan yang dikeluarkan. Namun, berdasarkan penelitian, ada sejumlah kebijakan yang tidak terkoordinasi dengan baik antara kementerian dan Istana.
Teori Situational Leadership mengingatkan kita bahwa efektivitas seorang pemimpin sangat bergantung pada kemampuannya memahami konteks sosial yang ada. Kebijakan yang tidak sensitif dapat menunjukkan bahwa analisis situasi yang dilakukan tidak memadai.
Hal ini bisa memunculkan kesan bahwa Presiden kehilangan kendali atas kebijaksanaan yang seharusnya diambil. Tingkat ketidakpuasan yang meningkat di masyarakat juga dapat menjadi indikator bahwa ada yang salah dalam pengambilan keputusan.
Berdasarkan penelitian terkini, Indonesia tengah menghadapi apa yang disebut sebagai triple crisis: krisis ekonomi, legitimasi, dan tata kelola. Banyaknya kebijakan yang kontroversial dapat menciptakan efek domino yang berisiko memicu ketidakstabilan lebih lanjut.
Oleh karena itu, sangat penting untuk memonitor setiap dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat, dan mengakomodasi kebutuhan serta keinginan publik dalam kebijakan yang diambil.

