www.fokustempo.id – Kasus kekerasan terhadap anak di Jawa Timur mencatat angka yang memprihatinkan sepanjang tahun 2025. Dengan 570 kasus terdaftar dari Januari hingga awal Desember, masalah ini menjadi sorotan utama Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di wilayah tersebut.
Angka ini mencerminkan sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencatat 578 kasus pada 2024. Namun, kekhawatiran akan meningkatnya jumlah kasus hingga akhir tahun masih menjadi fokus perhatian LPA Jatim.
Isa Anshori, salah satu pengurus LPA, mengungkapkan bahwa faktor utama penyebab kekerasan terhadap anak bersumber dari lingkungan domestik, terutama di rumah dan sekolah. “Ini menandakan bahwa kekerasan sudah menjadi masalah yang akrab dalam kehidupan anak,” ungkapnya.
Rumah, seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak, justru berpotensi menjadi ruang kekerasan. Ketidakhadiran perhatian orang tua membuat anak merasa terasing dan rentan.
“Pengawasan yang jarang dari orang tua dapat menyebabkan anak kehilangan jati diri dalam keluarga,” lanjut Isa. Hal ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam menciptakan lingkungan yang aman.
Sekolah juga dinilai berkontribusi dalam masalah ini, dengan lemahnya kampanye anti kekerasan di lingkungan pendidikan. “Banyak lembaga pendidikan gagal mengedukasi siswa tentang pentingnya perilaku saling menghormati,” tambahnya.
Isa menggarisbawahi adanya urgensi bagi negara untuk hadir dalam menciptakan regulasi dan intervensi yang efektif. “Kelemahan di lingkungan rumah dan sekolah tidak bisa diatasi sendiri, negara perlu berperan,” katanya.
Ada pula fakta bahwa tahun ini banyak anak yang berhadapan dengan hukum, termasuk insiden penangkapan anak di bawah umur yang terjadi pada demonstrasi. “Pemerintah seharusnya mencari solusi atas masalah ini,” tegas Isa.
Dia merujuk pada insiden akhir Agustus 2025, di mana beberapa anak ditangkap oleh pihak berwajib akibat terlibat dalam aksi massa yang ricuh. “Kejadian ini menunjukkan betapa rentannya anak-anak dalam situasi sensitif,” paparnya.
LPA Jatim berkomitmen untuk mengumpulkan data serta menyusun rekomendasi bagi pemerintah dalam menangani masalah kekerasan terhadap anak. “Data-data ini perlu menjadi perhatian semua elemen masyarakat untuk perbaikan bersama,” ujar Isa.
Dengan harapan bahwa langkah-langkah pencegahan dapat dibangun, Isa berpendapat bahwa kolaborasi berbagai pihak sangat penting. “LPA sebagai institusi masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjangkau dan mendukung anak-anak yang membutuhkan perlindungan,” tutupnya.
Pentingnya Kesadaran Terhadap Kekerasan Anak di Lingkungan Keluarga dan Sekolah
Peningkatan kesadaran akan pentingnya perlindungan anak dari kekerasan menjadi perjalanan panjang bagi masyarakat. Meski banyak orang sadar akan masalah ini, implementasi peraturan yang ketat masih menjadi tantangan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan harusnya berfungsi sebagai pelindung, namun sering kali tidak dapat mencegah kekerasan yang terjadi. “Edukasi terhadap pendidikan karakter harus ditingkatkan,” kata Isa.
Orang tua juga diharapkan lebih aktif dalam pengawasan dan hubungan dengan anak-anak mereka. “Komunikasi yang baik di antara anggota keluarga dapat mencegah banyak masalah,” pungkasnya.
Penyuluhan tentang hak-hak anak juga harus dilakukan secara massif. “Masyarakat perlu tahu bahwa anak-anak berhak mendapatkan perlindungan dan perhatian dari orang dewasa,” serunya.
Pemahaman yang mendalam mengenai dampak kekerasan terhadap perkembangan anak juga sangat diperlukan. “Kekerasan tidak hanya meninggalkan bekas fisik, tetapi juga dampak psikologis yang mendalam,” tambahnya.
Peran Negara dalam Perlindungan Anak Dari Kekerasan
Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama termasuk peran negara. Negara harus hadir dengan regulasi yang jelas untuk melindungi anak dari kekerasan.
Undang-undang perlindungan anak perlu ditegakkan dengan tegas untuk menciptakan lingkungan yang aman. “Pemerintah perlu mengambil tindakan nyata dalam mengatasi masalah ini,” jelas Isa.
Pendanaan untuk program sosial yang berfokus pada perlindungan anak juga harus menjadi prioritas. “Tanpa anggaran yang memadai, program perlindungan akan sulit terimplementasi,” ungkapnya.
Adanya kolaborasi antara pemerintah, pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengatasi kekerasan terhadap anak. “Perlu sinergi antara semua pihak agar bisa menciptakan perlindungan yang efektif,” harap Isa.
Monitoring serta evaluasi terhadap program perlindungan anak juga harus dilakukan secara berkala. “Agar kedepannya setiap kasus bisa terdeteksi dan ditangani dengan cepat dan tepat,” tambahnya.
Menggagas Solusi untuk Mengurangi Kasus Kekerasan Anak di Masa Depan
Langkah-langkah preventif menjadi sangat penting dalam mengurangi kasus kekerasan terhadap anak. Edukasi dan kampanye mengenai hak anak harus digalakkan di semua lapisan masyarakat.
Secara praktis, setiap orang dewasa diharapkan berperan serta dalam menjaga anak-anak di sekitarnya. “Kita semua punya tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi mereka,” kata Isa.
Pendidikan karakter di sekolah perlu dicurahkan lebih banyak perhatian, mengajarkan anak tentang moral dan etika. “Mereka perlu tahu dan memahami pentingnya untuk saling menghormati,” tambahnya.
Strategi pencegahan yang melibatkan anak, orang tua, dan lingkungan sekitar harus disusun dengan baik. “Setiap elemen harus berkolaborasi dalam menciptakan solusi,” harap Isa.
Akhirnya, komitmen bersama untuk melindungi anak harus menjadi agenda prioritas bagi semua pihak. “Hanya dengan begitu, kita bisa berharap untuk melihat perubahan yang signifikan,” tutupnya.


