www.fokustempo.id – Islah Bahrawi, Direktur Jaringan Moderat Indonesia, baru-baru ini memberikan sorotan tajam terhadap pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dalam pandangannya, penting untuk melakukan evaluasi diri sebelum melontarkan kritik terhadap produk seperti Aqua, yang merepresentasikan lebih dari sekadar air kemasan.
Islah menilai bahwa fenomena mengenai ketergantungan masyarakat pada air kemasan tersebut mencerminkan kegagalan negara dalam menyediakan akses air bersih yang memadai. Minimnya akses air bersih menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dalam pengelolaan sumber daya air di Indonesia.
“Sebelum menyalahkan pabrik air kemasan, Gubernur seharusnya meninjau kembali fakta bahwa negara sudah lama tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya,” ungkap Islah melalui unggahannya di media sosial. Air adalah kebutuhan mendasar bagi kehidupan, seharusnya dapat diakses tanpa perlu bergantung pada produk komersial.
Pentingnya Akses Air Bersih bagi Masyarakat
Air bersih merupakan hak asasi manusia yang seharusnya dijamin oleh negara. Namun, banyak daerah di Indonesia masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan sumber air yang berkualitas. Masyarakat cenderung beralih ke produk air kemasan karena keterbatasan yang ada.
Situasi ini menciptakan ketergantungan yang tidak semestinya terhadap brand air kemasan, sebaliknya mengabaikan peran fundamental dari pemerintah. Jika kebutuhan dasar seperti air saja tidak dapat dipenuhi, bagaimana negara dapat menjamin kesejahteraan warganya secara menyeluruh?
Islah menekankan bahwa negara harus mengambil tanggung jawab dalam memastikan adanya infrastruktur yang memadai untuk penyediaan air bersih. Jika tidak, citra buruk akan melekat secara permanen pada pemerintahan yang gagal berfungsi untuk rakyatnya.
Respons Gubernur terhadap Temuan di Pabrik Aqua
Dalam kunjungan ke pabrik Aqua di Subang, Gubernur Dedi Mulyadi menemukan fakta mengejutkan. Dia semula berkeyakinan bahwa air yang digunakan berasal dari mata air pegunungan, namun ternyata berasal dari sumur bor dalam yang mengambil air bawah tanah.
Dedi memperlihatkan ketidakpuasan setelah mengetahui fakta tersebut dan mempertanyakan asal-usul air yang diproduksi. Pertanyaan itu menunjukkan betapa pentingnya transparansi dalam pengambilan sumber daya air.
Dia mengungkapkan kekhawatiran bahwa masyarakat mengasosiasikan produk dengan kemurnian yang tidak sepenuhnya benar. Sekaligus, hal ini menyoroti perlunya regulasi yang lebih ketat terhadap industri penyedia air kemasan agar tidak mengecewakan konsumen.
Refleksi Terhadap Gagasan Ketersediaan Air Bersih
Ketidakpastian mengenai sumber air menjadi pertanda bahwa pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengelolaan sumber daya air. Evaluasi ini penting agar semua warga negara memiliki akses yang sama terhadap sumber daya tersebut.
Pemda harus mendengarkan suara masyarakat yang menginginkan pemerintahan yang lebih responsif terhadap masalah mendasar seperti ini. Adalah tugas negara untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat dalam setiap kebijakan yang diambil.
Dalam konteks ini, produsen air kemasan bukanlah satu-satunya faktor yang perlu disalahkan, melainkan lebih kepada ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan alternatif yang lebih baik. Jika masyarakat dapat memperoleh air bersih dengan mudah, tidak akan ada kebutuhan akan air kemasan.

