www.fokustempo.id – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia telah mengambil langkah signifikan dengan mentransformasi pola pembekalan petugas haji untuk tahun 1447 H/2026 M. Perubahan ini mengalihkan pendekatan dari Bimbingan Teknis menjadi Pendidikan dan Pelatihan yang bersifat intensif dengan pola semi militer, bertujuan untuk membangun kedisiplinan yang lebih tinggi di kalangan petugas haji.
Program ini akan dilaksanakan selama 20 hari di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, dimulai dari tanggal 10 hingga 30 Januari 2026. Dengan mengombinasikan metode tatap muka dan daring, kurikulum ini dirancang untuk memberi fokus 80 persen pada aspek jasmani di pekan pertama.
Wakil Ketua Diklat PPIH Arab Saudi 2026, Kolonel Kurniawan Muftiono, menjelaskan bahwa pendekatan semi militer ini juga melibatkan latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB). Tujuannya adalah membangun kohesi antar rekan petugas agar pelayanan dapat dilakukan secara kompak dan terorganisir.
Transformasi Pendidikan Petugas Haji Menjadi Lebih Terstruktur
Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan haji, Kemenhaj menyadari betapa pentingnya pelatihan yang terstruktur dan disiplin. Oleh karena itu, program diklat ini dikemas sedemikian rupa untuk menciptakan petugas yang tidak hanya terampil secara teknis tetapi juga memiliki ketahanan fisik yang baik.
Selama 20 hari pelatihan, peserta akan menjalani berbagai aktivitas yang ditujukan untuk meningkatkan kebugaran fisik. Proses ini diharapkan dapat mempersiapkan petugas untuk tantangan yang akan dihadapi di Tanah Suci, yang seringkali memerlukan stamina dan daya tahan yang tinggi.
Kolonel Kurniawan menekankan pentingnya solidaritas antar petugas melalui PBB. Latihan baris-berbaris ini dimaksudkan untuk menciptakan rasa kebersamaan dan saling percaya di antara anggota tim, yang merupakan kunci kesuksesan selama pelaksanaan ibadah haji.
Persiapan Mental dan Fisik yang Terintegrasi
Seiring dengan pelatihan fisik yang ketat, usaha untuk membangun mentalitas yang kuat juga menjadi fokus utama. Program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan fisik, tetapi juga untuk mempersiapkan mental petugas dalam menghadapi beragam situasi yang mungkin terjadi di lapangan.
Sebagai representasi negara di Arab Saudi, petugas haji diharapkan mampu menjaga martabat Indonesia dengan sepenuh hati. Kebersamaan dan semangat tim menjadi elemen krusial untuk memastikan pelayanan yang optimal bagi para jemaah yang datang dari berbagai daerah.
Melalui evaluasi yang dilaksanakan, tampak adanya progres positif di kalangan peserta. Para calon petugas menunjukkan semangat yang tinggi dan rasa kebersamaan yang semakin berkembang, yang sangat penting saat menjalankan tugas di Tanah Suci nanti.
Simulasi dan Penugasan di Pekan Kedua Program
Setelah fase penguatan fisik di pekan pertama, peserta akan melanjutkan ke pendalaman Tugas dan Fungsi (Tusi) layanan di pekan kedua. Fase ini akan mengajarkan mereka tentang beragam aspek teknis yang perlu dikuasai untuk memberikan layanan terbaik kepada jemaah haji.
Simulasi nyata akan dilakukan di pekan ketiga untuk memastikan bahwa semua pemahaman dan keterampilan yang telah diajarkan dapat diterapkan dengan baik di lapangan. Ini adalah langkah penting untuk memastikan kesiapan petugas dalam menghadapi tantangan di Arab Saudi.
Dengan melibatkan semua elemen dalam simulasi, diharapkan petugas akan lebih siap dalam melayani jemaah yang datang, terutama dari embarkasi yang memiliki jumlah jemaah yang tinggi seperti Jawa Timur.
Mewujudkan Tim yang Solid dan Tangguh untuk Pelayanan Haji
Seluruh rangkaian diklat ini bertujuan untuk menghasilkan tim yang solid dan tangguh. Dengan disiplin yang ketat, diharapkan setiap anggota tim dapat saling mendukung dan bekerja sama demi keberhasilan pelayanan haji.
Kolonel Kurniawan mengingatkan, bahwa keberhasilan operasional haji sangat bergantung pada kekompakan dan kerjasama antar petugas. Dengan membangun tim yang kuat dan saling memahami, pelayanan di Tanah Suci diharapkan dapat berjalan dengan lebih lancar.
Tanpa ragu, upaya peningkatan ini akan berkontribusi positif pada citra Indonesia di mata dunia internasional. Melalui petugas yang terlatih dan disiplin, diharapkan Indonesia mampu menjaga amanah sebagai negara penyelenggara ibadah haji yang lebih baik.


