www.fokustempo.id – Atap sebuah rumah di Jalan Jepara, Kelurahan Morokrembangan, Surabaya, ambrol pada pagi hari Kamis, 13 November 2025. Kejadian ini diduga disebabkan oleh kayu penopang atap yang sudah lapuk sehingga tidak dapat menahan beban. Beruntung, saat kejadian, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Linda Novanti, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya, menyampaikan bahwa tim petugas sudah berada di lokasi untuk mengamankan tempat kejadian. Mereka juga melakukan pendataan terhadap penghuni yang terdampak dan menyalurkan bantuan untuk meringankan beban mereka.
Menurut penjelasan Linda, enam orang penghuni yang berasal dari dua keluarga telah diungsikan ke tempat tinggal sementara di kawasan Dupak Baru. Atap yang ambrol membuat rumah tersebut tidak bisa lagi ditempati dengan aman.
Peristiwa Ambrolnya Atap Rumah di Surabaya
Pada hari yang sama, petugas yang berada di lokasi langsung melakukan survei terhadap kondisi rumah tersebut. Keberadaan kayu penopang atap yang sudah menjelang usia tua menjadi penyebab utama kerusakan ini.
Kerusakan rumah terbilang cukup parah, meliputi sejumlah ruang penting seperti kamar tidur depan, ruang tamu, dan kamar tidur belakang. Linda menegaskan bahwa kondisi ini memerlukan perhatian segera dari pihak terkait.
Setelah kejadian, BPBD berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk memastikan tindakan selanjutnya. Hal ini penting agar bantuan yang diberikan dapat tepat sasaran bagi para penghuni yang kehilangan tempat tinggal.
Langkah-langkah Penanganan Pasca Kejadian
Setelah memastikan kondisi rumah yang ambrol, langkah-langkah penanganan segera dilakukan oleh BPBD. Tim melakukan pendataan terhadap dua keluarga yang terdampak untuk memprioritaskan bantuan yang diperlukan.
Linda menjelaskan bahwa keluarga pemilik rumah terindikasi telah terdaftar dalam program PRAMIS dan program Rutilahu yang digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya. Program ini bertujuan untuk membantu rumah yang tidak layak huni agar dapat diperbaiki.
BPBD juga melakukan serah terima bantuan kepada penghuni rumah yang terdampak. Kordinasi yang intens dengan pihak kelurahan terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan mereka terpenuhi secara maksimal.
Kondisi Rumah dan Rencana Perbaikan
Kondisi rumah yang rusak berat sangat mengkhawatirkan, sehingga diperlukan rencana perbaikan jangka pendek. Rumah yang tidak dapat dihuni oleh penghuni ini memicu urusan segera untuk mencari solusi tempat tinggal yang lebih aman.
Linda menjelaskan bahwa pemilik rumah tidak hanya menderita kerugian material, tetapi juga harus menghadapi tantangan emosional akibat kehilangan tempat tinggal. Oleh karena itu, perhatian psikologis juga perlu diberikan.
Menindaklanjuti ini, BPBD bersama pihak terkait berencana untuk memberikan bantuan renovasi agar rumah tersebut dapat diperbaiki dan ditinggali kembali. Proses ini diharapkan berjalan cepat agar keluarga dapat kembali ke rumah mereka dengan aman.


