www.fokustempo.id – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menyelenggarakan Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2025. Acara ini bertujuan untuk melestarikan dan mempromosikan batik khas daerah, serta menyuguhkan berbagai kegiatan menarik yang melibatkan masyarakat.
Perhelatan ini menawarkan rangkaian acara yang bermanfaat, mulai dari lomba mewarnai hingga peragaan busana yang memukau. Salah satu lokasi utama acara diadakan adalah Lorong Bambu, Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan, di mana ribuan pengunjung berkumpul untuk menikmati suasana yang meriah.
BBF tahun ini juga berkolaborasi dengan Bulan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember, menambah nilai penting acara ini bagi pengembangan industri batik lokal. Peserta dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga remaja, menunjukkan kreativitas mereka dalam berbagai kontes yang diadakan.
Berkat Kolaborasi, BBF 2025 Kian Menarik dan Berkesan
Pembukaan BBF 2025 ditandai dengan Fashion Lorong Bambu yang menampilkan busana batik kasual bermotif Wader Kesit. Busana-busana ini dirancang oleh desainer lokal dan juga oleh orang tua peserta, menunjukkan kerjasama yang baik antara generasi.
Di antara sekian banyak peserta, Jeselin, seorang anak berusia empat tahun, berhasil mencuri perhatian dengan penampilannya yang mengesankan. Ketidaktakutannya di panggung memancarkan semangat yang bisa menginspirasi anak-anak lainnya untuk berani tampil.
Ibunya, Bella Donna, merasa bangga bahwa Banyuwangi memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengekspresikan diri. Melalui ajang ini, anak-anak dapat belajar tentang seni peran dan budaya lokal, serta menumbuhkan kepercayaan diri mereka.
BBF sebagai Sarana Pemberdayaan Industri Batik Lokal
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menekankan bahwa BBF bukan hanya sekadar acara mode, tetapi juga merupakan wujud pemberdayaan para pelaku industri batik. Dalam upaya ini, pengrajin dan desainer didorong untuk berinovasi serta menciptakan produk batik yang lebih variatif.
Kesuksesan BBF juga terletak pada komitmen untuk melestarikan budaya batik khas Banyuwangi. Sejak awal dimulainya festival ini pada tahun 2013, beragam motif batik tradisional telah diperkenalkan dan mendapat perhatian luas.
Tahun ini, tema utama yang diangkat adalah Wader Kesit, yang mencerminkan karakter masyarakat Banyuwangi. Motif ini menggambarkan sifat gesit dan lincah, sama seperti ikan wader yang banyak ditemukan di sungai-sungai daerah ini.
Minat Wisatawan dan Dukungan untuk Pelestarian Budaya
Kemeriahan acara ini tidak hanya menarik minat warga lokal, tetapi juga wisatawan asing yang datang untuk menyaksikan. Salah satunya, seorang turis asal Prancis, Mathieu, memuji penampilan anak-anak yang berpartisipasi dalam fashion show ini.
Merasa terkesan dengan keterampilan dan penampilan natural anak-anak, Mathieu menyampaikan bahwa hal ini menunjukkan keindahan budaya Indonesia. Partisipasi wisatawan seperti ini adalah tanda bahwa BBF dapat menjadi jembatan untuk menarik perhatian lebih besar terhadap budaya lokal.
Dengan terus menggelar acara seperti ini, Banyuwangi memperkuat posisinya sebagai destinasi yang kaya budaya dan tradisi. Hal ini menjadi salah satu alasan bagi wisatawan untuk terus datang dan menjelajahi keunikan yang ada di Banyuwangi.


