www.fokustempo.id – Pelayaran perdana program Tol Laut di Indonesia resmi diluncurkan oleh PT PELNI (Persero) pada 10 Januari 2026. Kegiatan ini dilakukan di Kade Mirah, Pelabuhan Tanjung Perak, dengan tujuan utama untuk mengurangi disparitas harga barang di wilayah Terpencil, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan (3TP) hingga mencapai 40 persen.
Direktur Utama PT PELNI, Tri Andayani, menegaskan bahwa peluncuran ini bukan sekadar acara simbolis. Ini menandakan komitmen perusahaan untuk mewujudkan pemerataan keadilan ekonomi di seluruh Indonesia.
“Diskon harga ini diharapkan dapat memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat di daerah terpinggirkan. Program ini akan berfokus pada distribusi kebutuhan pokok secara teratur,” tambahnya.
Pentingnya Program Tol Laut untuk Kesejahteraan Masyarakat
Pada pelayaran perdana ini, KM Logistik Nusantara 3 mengangkut lebih dari 80 TEUs dengan muatan yang terdiri dari kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan bahan makanan lainnya. Distribusi barang-barang ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok vital di wilayah yang sulit dijangkau.
“Dengan adanya program ini, kami berharap akan tercipta aksesibilitas yang lebih baik bagi masyarakat yang tinggal di 3TP. Berbagai pihak akan diajak bekerja sama demi kelancaran program ini,” ujar Tri Andayani.
Ketepatan waktu distribusi menjadi salah satu fokus utama dari program ini. PELNI berkomitmen untuk menjaga jadwal pengiriman agar barang bisa sampai tepat waktu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Rute dan Penyesuaian Trayek KM Logistik Nusantara 3
KM Logistik Nusantara 3 ditugaskan untuk melayani trayek baru yang akan menghubungkan Tanjung Perak dengan beberapa lokasi di wilayah 3TP. Penyesuaian ini bertujuan agar jangkauan layanan Tol Laut bisa lebih optimal dan dapat memenuhi kebutuhan logistik daerah.
Rute yang dilayani pada tahun 2026 adalah Tanjung Perak, Wanci, dan Namrole, dengan penyesuaian trayek yang sebelumnya ditentukan pada tahun 2025. Penyesuaian ini sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan kestabilan pasokan barang.
“Kami mengharapkan penyesuaian rute ini akan memudahkan pengiriman barang dan memenuhi permintaan di lokasi yang dibutuhkan. Tahun sebelumnya, kami mengoperasikan trayek yang sedikit berbeda,” tambahnya.
Peran Pelabuhan Tanjung Perak dalam Distribusi Logistik Nasional
Pelabuhan Tanjung Perak memainkan peran penting dalam mendukung kelancaran program Tol Laut. Pada tahun 2026, dua trayek kapal Tol Laut akan diberangkatkan dari pelabuhan ini untuk memenuhi permintaan distribusi barang ke berbagai daerah 3TP.
“Angka muatan yang tinggi dari Surabaya mencerminkan peran sebagai hub logistik nasional. Kami terus berkomitmen untuk memastikan ketersediaan bahan pokok dan keterjangkauan di wilayah tersebut,” jelas Kepala Cabang PELNI Surabaya, Roni Abdullah.
Dalam kurun waktu satu tahun, total muatan Tol Laut yang diberangkatkan dari Surabaya mencapai 5.697 TEUs, yang mencakup 43 persen dari total muatan yang berangkat. Hal ini menunjukkan kepentingan Surabaya sebagai pusat logistik yang strategis di Indonesia.
Secara keseluruhan, program Tol Laut merupakan langkah strategis untuk memajukan distribusi logistik di Indonesia. PT PELNI berharap melalui program ini, disparitas harga dapat turun dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.
Berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya, PELNI berupaya untuk terus mengoptimalkan potensi komoditas lokal. Hal ini diharapkan akan menghasilkan distribusi logistik yang lebih merata dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
Dengan langkah ini, PT PELNI dan seluruh pihak terkait memiliki visi yang sama untuk mencapai pemerataan ekonomi. Diharapkan bahwa inisiatif ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih baik.


