www.fokustempo.id – Gus Hilmi Firdausi, seorang pendakwah terkemuka, baru-baru ini menjawab kontroversi yang muncul akibat video Gus Elham Yahya. Dalam video tersebut, Gus Elham terlihat mencium pipi hingga bibir seorang anak perempuan saat acara pengajian, yang memicu berbagai reaksi di media sosial.
Dalam pernyataannya, Gus Hilmi menekankan bahwa gelar ‘Gus’ bukan sekadar simbol kebanggaan, melainkan sebuah tanggung jawab yang harus dijaga. Tanggung jawab ini mencakup perilaku dan adab, terutama sebagai representasi dari keluarga ulama yang lebih besar.
“Gelaran ini diberikan oleh masyarakat sebagai pengakuan atas kemuliaan orang tua kita, bukan karena kehebatan diri sendiri,” tegas Gus Hilmi. Menurutnya, penting bagi para penerima gelar tersebut untuk selalu mengingat asal-usul dan tanggung jawab mereka dalam masyarakat.
Pentingnya Menjaga Adab dalam Dakwah
Gus Hilmi juga memberikan penekanan pada pentingnya menjaga adab dalam berdakwah. Ia percaya bahwa sebagai seorang pendakwah, perilaku yang baik dan sopan santun harus menjadi prioritas utama. “Kita harus ingat, menjadi pendakwah tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga mencerminkan karakter yang baik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perilaku seorang pendakwah akan berdampak besar pada penerimaan masyarakat terhadap ajaran Islam. “Sikap dan tindakan kita akan memengaruhi pandangan orang terhadap nilai-nilai yang kita ajarkan,” tambahnya.
Bagi Gus Hilmi, menjaga adab bukan hanya soal kesopanan, tetapi juga tentang konsekuensi dari tindakan yang diambil. “Jika tindakan kita tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita bawa, akan berdampak buruk pada dakwah kita,” jelasnya.
Menjaga Kepercayaan Masyarakat terhadap Para Ulama
Gus Hilmi juga berbicara mengenai kepercayaan masyarakat kepada para ulama. Ia mengingatkan bahwa gelar ‘Gus’ membawa serta kepercayaan yang besar dari masyarakat. “Kita harus menjaga kepercayaan ini, agar terus dapat menjadikan masyarakat lebih baik,” ucapnya.
Menjaga kepercayaan ini berarti bertindak dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab. “Setiap langkah yang kita ambil akan dipantau oleh masyarakat, dan ini menuntut kita untuk selalu berbuat baik,” imbuh Gus Hilmi.
Dengan demikian, Gus Hilmi berharap agar para generasi penerus ulama dapat memahami arti sebenarnya dari gelar yang mereka miliki. “Kita harus siap dengan tantangan ini, karena tanggung jawab yang diemban bukanlah hal yang ringan,” tegasnya.
Refleksi atas Perilaku dan Tindakan Sendiri
Dalam konteks kejadian yang viral ini, Gus Hilmi menyerukan semua pihak untuk melakukan refleksi. Ia berpendapat, setiap individu perlu mengevaluasi tindakan dan perkataan mereka. “Refleksi ini penting untuk menemukan hikmah dari setiap peristiwa,” katanya.
Gus Hilmi menambahkan bahwa hikmah tidak selalu mudah ditemukan, tetapi sangat penting untuk pertumbuhan pribadi dan spiritual. “Dari setiap kesalahan atau kejadian yang kami lihat, mari kita ambil pelajaran untuk menjadi lebih baik,” lanjutnya.
Ia pun berharap bahwa kejadian-kejadian semacam ini bisa memicu dialog yang konstruktif di kalangan masyarakat. “Dengan berdiskusi, kita bisa saling memahami dan mencari solusi yang lebih baik,” tutupnya.


