www.fokustempo.id – Pentingnya penguasaan aspek administratif dalam dunia impor barang menjadi tantangan tersendiri bagi para pengusaha. Banyak dari mereka yang merasa ragu untuk melakukan impor langsung karena harus menyiapkan berbagai dokumen yang rumit. Dalam konteks ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya bekerja sama dengan PT Goesaff Manunggal Sejahtera meluncurkan layanan baru yang dinamakan Asuransi Impor, yang diharapkan bisa mempermudah proses ini bagi para importir.
Peluncuran layanan tersebut berlangsung dengan meriah di Hall Graha Kadin Jatim pada tanggal 8 Oktober 2025. Acara ini bukan hanya dihadiri oleh anggota Kadin Surabaya, tetapi juga oleh pihak pemerintah dan asosiasi logistik, yang menunjukkan dukungan luas untuk inisiatif ini. Hal ini menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mempercepat proses kepabeanan dan mematuhi peraturan internasional yang berlaku.
Ketua Kadin Kota Surabaya, H.M. Ali Affandi LNM, mengungkapkan bahwa program layanan ini lahir dari kebutuhan nyata yang ada di lapangan. Banyak pengusaha, khususnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM), yang menghadapi kesulitan administratif dan peraturan ketika melakukan impor tanpa memiliki dokumen asuransi yang sah.
Berdasarkan penjelasan Ali, asuransi adalah komponen krusial dalam prinsip CIF (Cost, Insurance, Freight) yang merupakan dasar dalam perhitungan nilai pabean. Tanpa adanya dokumen asuransi, impor dapat terhambat, yang mengakibatkan kerugian baik dari sisi waktu maupun biaya. Oleh karena itu, integrasi aspek asuransi dalam proses impor menjadi sangat penting.
Layanan Asuransi Impor ini mengikuti ketentuan dari UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, UU Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian, serta Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur keharusan untuk memperhitungkan biaya asuransi dalam nilai pabean. Ketiadaan asuransi yang memenuhi syarat dapat membuat Bea Cukai menunda atau meminta klarifikasi terhadap dokumen yang diajukan.
Wakil Ketua Kadin Surabaya, Medy Prakoso, menambahkan data menarik mengenai jumlah importir di Jawa Timur. Dari total 3.400 importir, 1.600 di antaranya berada di Surabaya, namun kesadaran mengenai pentingnya asuransi impor masih rendah. Terdapat tantangan besar untuk meningkatkan pemahaman ini di kalangan pelaku usaha.
“Kenyataannya, tidak sedikit yang masih tidak menyadari pentingnya asuransi. Jika kita lihat data kerusakan barang, meskipun hanya berkisar 1–2%, risiko yang ada membuat perlunya asuransi sangat relevan,” ujar Medy, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Gabungan Importir Nasional Indonesia di tingkat Jawa Timur.
Sebelumnya, Kadin tidak hanya berfungsi sebagai penerbit polis asuransi, melainkan juga sebagai jembatan edukasi. Mereka berusaha memastikan bahwa para importir menyadari bahwa kepatuhan pada regulasi merupakan bagian dari manajemen risiko yang bisa melindungi bisnis mereka secara keseluruhan.
Direktur Utama PT Goesaff Manunggal Sejahtera, Ramali Affandi, menekankan bahwa kolaborasi yang dibentuk bertujuan untuk membantu importir yang sering kali menemukan kendala saat melakukan pengiriman barang di pelabuhan. Kebiasaannya, importir menganggap proses pengasuransian sudah ditangani oleh pihak negara asal, sehingga mereka mempersulit sendiri prosesnya.
Menghadapi Tantangan Globalisasi dan Integrasi Digital
Kadin Surabaya juga berkomitmen untuk menjajaki integrasi layanan Asuransi Impor dengan sistem logistik nasional dan kepabeanan yang berbasis digital. Inisiatif ini dirancang untuk mempercepat proses validasi dokumen dan kemudahan dalam pengajuan Pemberitahuan Impor Barang (PIB). Dengan langkah ini, diharapkan akan tercipta efisiensi yang lebih tinggi dalam proses impor.
“Harapannya, ketika polis asuransi diterbitkan, dokumen terkait bisa langsung terhubung kepada sistem Bea Cukai. Ini tentunya akan mempercepat proses PIB tanpa memerlukan verifikasi manual yang lama,” jelas Medy lebih lanjut.
Ketua Asperindo Jawa Timur, Asmaul Husna, menyoroti betapa pentingnya edukasi dalam memahami sistem perdagangan internasional. Salah satunya adalah konsep Free On Board (FOB), di mana tanggung jawab asuransi ada pada importir. Kesalahpahaman mengenai Incoterms adalah salah satu penyebab mengapa banyak importir enggan mengurus asuransi.
“Kami berusaha untuk memastikan bahwa setiap pengusaha di Surabaya tidak hanya aktif dalam bisnis, tetapi juga patuh terhadap aturan yang ada, terlindungi, dan mampu bersaing di pasar global,” tutup Medy. Dengan harapan, program ini dapat direplikasi ke sektor ekspor dan menjadi model pemajuan layanan di tingkat nasional.
Rencana Strategis untuk Meningkatkan Partisipasi Importir
Salah satu fokus utama ke depan adalah bagaimana meningkatkan partisipasi dan kesadaran para importir tentang pentingnya asuransi. Kadin berencana untuk mengadakan serangkaian seminar dan workshop guna memberikan informasi yang lebih lengkap kepada pengusaha, terutama UKM, yang mungkin kurang familiar dengan proses ini.
Pendidikan dan sosialisasi juga akan difokuskan pada manfaat jangka panjang dari memiliki asuransi. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan pengusaha dapat melihat asuransi bukan sebagai biaya tambahan, melainkan sebagai investasi yang melindungi mereka dari potensi kerugian besar di masa mendatang.
Adanya layanan Asuransi Impor diharapkan dapat menjadi langkah baru dalam meningkatkan daya saing lokal di pasar global. Dengan mematuhi semua regulasi yang ada, pengusaha tidak hanya akan secure dalam bertransaksi, tetapi juga akan termotivasi untuk menjelajahi peluang-peluang baru.
Keberhasilan dari program ini akan sangat bergantung pada kerjasama yang solid antar berbagai pihak, termasuk pemerintah, asosiasi bisnis, dan pelaku industri. Dengan langkah-langkah konkret yang dilakukan, harapan untuk menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih sehat dan kompetitif dapat terwujud.
Secara keseluruhan, langkah yang diambil oleh Kadin dan PT Goesaff Manunggal Sejahtera adalah sebuah inovasi penting dalam upaya mendukung importir. Dengan meningkatkan akses terhadap solusi asuransi, diharapkan akan terwujud kemandirian serta kemampuan yang lebih besar bagi pengusaha lokal di masa depan.


