www.fokustempo.id – Bupati Muhammad Fawait mengungkapkan pandangannya di hadapan puluhan pengusaha pada acara ramah tamah yang diadakan di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember. Dalam pernyataannya, Fawait menyoroti pergeseran yang terjadi terhadap citra kemajuan daerah di ujung timur Jawa Timur, yang selama ini dikenal sebagai pusat kegiatan pemerintah.
Menurut Fawait, dalam sepuluh hingga lima belas tahun terakhir, Jember pernah menjadi pemimpin di sektor pariwisata di pulau Jawa. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa Kabupaten Jember harus bersaing dengan kabupaten tetangga yang semakin berkembang dalam sektor wisata, seperti Banyuwangi dan Lumajang.
Dengan harapan untuk mengangkat sektor pariwisata sebagai pendorong ekonomi, Bupati Fawait bertekad memfokuskan upaya pengembangan ini demi memperbaiki citra kabupaten. Ia menyatakan bahwa walaupun kontribusi pariwisata terhadap PDRB masih kecil, mengabaikannya hanya akan memperburuk keadaan.
Kondisi Pariwisata dan Rencana Pengembangan di Jember
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember, Bobby Arie Sandi, mengemukakan fakta bahwa Kabupaten Jember belum termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Hal ini disebabkan tidak adanya Rencana Induk Pariwisata Kabupaten, yang menjadi salah satu alasan di balik ketidakikutsertaan Jember dalam pengembangan kawasan ini.
Dalam konteks ini, Wartono, seorang pelaku pariwisata di Kalibaru, Banyuwangi, menggarisbawahi keberhasilan Kabupaten Banyuwangi yang dipimpin oleh Bupati Abdullah Azwar Anas dalam mengembangkan pariwisata dalam waktu yang singkat. Ia menilai bahwa kolaborasi dan keterlibatan aktif dari semua komunitas menjadi kunci sukses di Banyuwangi.
Wartono menegaskan pentingnya pemberdayaan sumber daya manusia dalam pengembangan pariwisata di Jember. Menurutnya, bukan hanya pemerintah yang memiliki tanggung jawab ini, tetapi seluruh masyarakat Jember juga perlu ambil bagian untuk mempromosikan potensi yang ada.
Perspektif Berbeda mengenai Kepercayaan Diri Jember
Berbeda dengan Wartono, Hasti Utami, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia, mengungkapkan keprihatinannya terhadap mentalitas inferior di kalangan masyarakat Jember. Ia menyatakan bahwa Jember tidak seharusnya merasa minder atau berusaha membandingkan diri dengan daerah lain seperti Banyuwangi dan Lumajang.
Hasti menekankan bahwa Jember memiliki karakteristik unik yang perlu diapresiasi, bukan dianggap sebagai kekurangan. Ia juga menyebutkan bahwa Jember sudah dikenal luas jauh sebelum Banyuwangi mulai berkembang sebagai destinasi wisata.
Pentingnya memiliki cetak biru dalam pengembangan pariwisata di Jember juga dijelaskan oleh Hasti, yang mengarahkan perhatian kepada program-program berbasis keberlanjutan agar pengembangan pariwisata dapat berjalan dengan efektif.
Inovasi dalam Transportasi dan Keterlibatan Pelaku Pariwisata
Di sektor transportasi, pelaku pariwisata Jember telah memulai langkah inovatif semacam program Angkutan Sultan yang menawarkan pengalaman yang nyaman bagi wisatawan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas transportasi serta memberikan pengetahuan tentang tempat-tempat wisata kepada pengemudi angkutan umum.
Pengemudi angkutan ini tidak hanya berfungsi sebagai transportasi biasa, tetapi juga sebagai pemandu wisata yang terlatih. Mereka siap memberikan informasi mengenai sejarah dan keunikan dari destinasi yang dituju, menciptakan pengalaman yang lebih mendalam bagi para pelancong.
Acara Jember Fashion Carnaval juga memanfaatkan angkutan Sultan untuk memfasilitasi pengunjung, yang menunjukkan kolaborasi antara pelaku pariwisata dan pemerintah dalam mempromosikan acara-acara besar di Jember.
Potensi Rejuvenasi Pariwisata Jember
Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, mendorong agar seluruh pihak di Jember lebih percaya diri dalam menghadapi persaingan dengan daerah lain. Dia menekankan bahwa kinerja pariwisata di Jember sebenarnya menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan, dengan meningkatnya jumlah pengunjung dari tahun ke tahun.
Sebanyak lebih dari satu juta pengunjung tercatat mengunjungi Kabupaten Jember, menunjukkan bahwa potensi pariwisata masih bisa dimaksimalkan dengan strategi yang tepat. Candra juga mengajak pelaku pariwisata untuk memanfaatkan keragaman budaya yang ada sebagai daya tarik wisata.
Dalam pembahasan Rancangan Perda Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan, Candra mengingatkan pentingnya masukan dari pelaku seni dan budaya untuk menjadikan pariwisata sebagai pilar ekonomi masa depan Jember.
Seorang anggota dari asosiasi biro perjalanan wisata, Nur Hidayat, juga menekankan bahwa Jember tidak perlu bersaing tetapi saling melengkapi dengan Banyuwangi. Dia percaya bahwa Jember dapat menarik lebih banyak wisatawan sebagai destinasi dari sekadar tempat berhenti, sekaligus menawarkan pengalaman yang lebih mendalam bagi pengunjung.
Hasti Utami menambahkan bahwa saat ini adalah momentum bagi masyarakat Jember untuk membangun kembali kepercayaan diri mereka. Ia mengkhawatirkan bahwa mentalitas minder dapat menghambat usaha pengembangan sektor pariwisata di daerah tersebut.


