www.fokustempo.id – Puluhan petani di Desa Cendoro, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban baru-baru ini terlibat dalam pelatihan inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan hasil pertanian mereka. Program ini merupakan bagian dari inisiatif pertanian berkelanjutan yang mendorong penggunaan pestisida nabati sebagai alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Pelatihan ini difasilitasi oleh lembaga yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, memberikan wawasan yang dibutuhkan petani untuk mengelola lahan mereka secara lebih efisien. Melalui program tersebut, diharapkan para petani dapat mengurangi pengeluaran untuk pestisida kimia yang selama ini mereka beli dengan harga tinggi.
Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 18 Juli 2025 ini adalah salah satu agenda dari program yang lebih luas, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan petani mengenai pertanian yang aman dan ramah lingkungan. Peserta diajari cara membuat pestisida nabati yang terbuat dari bahan-bahan alami yang mudah didapatkan di sekitar mereka.
Inisiatif Pertanian Berkelanjutan di Tuban
Inisiatif ini bukan sekadar pelatihan biasa, tetapi upaya menyeluruh untuk merubah cara petani berpikir tentang penggunaan pestisida. Dalam program ini, peserta belajar memanfaatkan sumber daya alam di sekitar mereka untuk membuat pestisida sendiri yang lebih ekonomis.
Menurut Imam Muqroni, yang menjabat sebagai Manager Program Pertanian Berkelanjutan, inisiatif ini bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga untuk menjaga keamanan infrastruktur penting di daerah tersebut. Ia menyebutkan bahwa program ini mencakup 31 desa yang dilalui jalur pipa, dan desa Cendoro adalah salah satu yang mendapatkan kesempatan lebih awal.
Pembuatan pestisida nabati itu melibatkan berbagai bahan alami seperti daun randu, akar tuba, dan buah mahoni. Semua bahan ini diolah dengan cara yang mudah dan praktis, sehingga diharapkan para petani dapat mengaplikasikannya di lahan mereka masing-masing.
Manfaat Bagi Petani dan Lingkungan
Program ini telah berjalan selama dua tahun dengan dampak positif yang nyata bagi petani. Selain mengurangi biaya pembelian pestisida, para petani juga memperoleh edukasi tentang cara menjaga kualitas tanah dan hasil pertanian mereka dengan metode yang lebih alami.
Sukirman, salah seorang petani yang hadir dalam pelatihan ini, mengaku cukup terbantu dengan adanya program tersebut. Ia menyadari bahwa pengeluaran untuk pestisida kimia selama ini cukup besar, dan ia berharap pelatihan ini bisa memberikan solusi yang lebih ekonomis.
Sebuah survei informal menunjukkan bahwa mayoritas peserta pelatihan sangat antusias untuk mencoba metode baru ini. Mereka percaya bahwa pestisida nabati tidak hanya lebih aman bagi kesehatan mereka, tetapi juga bagi lingkungan sekitar.
Dukungan Komunitas dan Keberlanjutan Program
Dari tahun ke tahun, program ini terus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak termasuk komunitas lokal. Dukungan tersebut semakin memperkuat niat petani untuk beralih ke praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Joni Wicaksono, perwakilan dari ExxonMobil Cepu Limited, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya terbatas pada pelatihan, tetapi juga mencakup sesi diskusi dan rembuk untuk membahas isu-isu pertanian yang dihadapi para petani. Tujuannya agar petani tidak merasa sendiri dalam menghadapi tantangan yang ada.
Monitoring dan evaluasi program dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa petani dapat melewati kendala yang mungkin dihadapi. Dengan bantuan yang konsisten, diharapkan program ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi para petani dan lingkungan sekitar.


